SELAMAT JALAN SENGTONG

Harno dan Dedi

Harno…. “Aplgrung-rcti32.jpgntar Drh Dedi ke PLG untuk melihat Sengtong yang sedang sekarat” perintah Marcel manajer SRS kepada Harno Polhut TNWK yang sedang bertugas di SRS. Kami semua sangat terkejut mendengar berita itu, maklum yang kami tahu Sengtong adalah Gajah jantan terkuat di PLG. Ketika mempersiapkan alat-alat yang akan dibawa kembali Marcel memberi info bahwa Sengtong telah tiada, Lemes…. Sedih…. Satu lagi Gajah PLG mati. Peralatan yang tadinya untuk perawatan berupa selang infus dan obat-obatan berganti dengan rentetan pisau bedah untuk menekropsi Sengtong.

Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya maklum kini sedang musim hujan, sewaktu-waktu bisa terjadi hujan atau memang alam sedang berduka bahwa Sengtong telah tiada. Aku menyiapkan sepeda motor yang akan dibawa karena kami tidak bisa membawa mobil, satu-satunya jalan sedang diperbaiki jadi hanya cukup untuk sepeda motor menyusuri jalan setapak yang sangat licin dan berliku. Luar biasa derasnya hujan senja itu tapi kami harus segera sampai ke PLG, jarak 20 km yang kami tempuh semakin terasa panjang karena kondisi jalan yang sangat jelek, beberapa kali kami tergelincir dan terjerembab ke selokan berlumpur, pakaianpun basah kuyup rasanya tak ada bagian tubuh yang kering, basah semuanya.

Setelah bertemu dengan Pimpinan PLG kamipun menuju lokasi Sengtong, disana sudah banyak orang, ada pawang, WWF, WCS, staff TN Polhut, dll. Satu escavator sedang menarik tubuh Sengtong ke lokasi yang lebih datar untuk memudahkan nekropsi. Melihat Sengtong tergeletak tak bernyawa, sedih rasanya walaupun aku bukan pawangnya tapi sebagai orang yang bekerja dikawasan konservasi melihat itu tetap pedih rasanya, sang raja yang dulu perkasa kini hanya onggokan besar tak berguna dan sebentar lagi akan dicabik-cabik untuk melihat kondisi organ-organnya, untuk mencari tau apa penyebab kematiannya.
Dokter Dedi dan Esti, bersama pak Nazar, pak Didik, pak Taman, dll bersiap dengan golok dan pisau ditangan, mereka siap membongkar tubuh seberat hampir 3 ton itu. Dengan kamera ditangan aku berusaha mengabadikan setiap momen dimalam itu, semua orang terlihat sibuk, tapi ada juga yang hanya berdiri melihat proses nekropsi. Sayat demi sayatan dan potong demi potongan terus dilakukan sampai hampir semua organ ditemukan, sepertinya sejauh ini belum ditemukan sesuatu yang mencurigakan terhadap penyebab kematian Sengtong. Tiba-tiba bulu romaku merinding melihat usus dan lambung dibuka, hanya sedikit sisa makanan disana, yang membuat semua orang terkejut adalah keberadaan parasit (yang aku duga sejenis Cacing) menempel merata diselutur permukaan usus, ribuan banyaknya…. Bergerak perlahan tapi pasti…. Aku masih bertanya-tanya apa gerangan itu, ah… biarlah nanti aku tanya ke Dokter Dedi, apa gerangan mahkluk itu, sambil kembali mengarahkan kamera ke tubuh Sengtong.
Wajah lelah, pucat dan sedih terlihat diraut wajah semua orang yang ada di tempat itu. Ketika nekropsi selesai barulah terasa dingin dan menggigil tubuh ini, maklum sejak senja sampai dini hari dimana nekrosi baru selesai aku tetap memakai pakaian yang basah tadi, tak teringat sama sekali untuk menukarnya karena pikiranku hanya pada Sengtong….
Tanah terakhir yang menutup pusara Sengtong mengiringi kepergian kami dari tempat itu. Selamat jalan Sengtong……
(Warta konservasi edisi V Maret 2007)

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: