Sang Raja Telah Tiada

Dedi Candra

sentong-mati-3-1-2007-098.jpgSengtong begitu ia biasa dipanggil dan nama itu sudah sangat terkenal di PLG Way Kambas Lampung. Nasib yang membuat ia berada di PLG WK karena dahulunya ia gajah yang bermasalah yang selanjutnya digiring, ditangkap dan dilatih menjadi gajah jinak dan pintar, ia juga merupakan generasi awal gajah di PLG WK yang dilatih langsung olah pawang gajah dari Thailand. Sengtong merupakan gajah jantan besar dan dominan dimana ia menguasai seluruh jantan PLG, ketika tiba masa Mash…. Tak ada gajah lain yang berani dekat Sengtong. Seiring dengan perjalanan waktu pawangpun silih berganti menangani Sengtong dan kondisinya terus menurun walaupun ia tetap sang penguasa, tetap sang raja.

Sengtong dihajar gajah liar “ Dugul”, dengan  kondisi terikat dipatok beton, Sengtong tidak mempunyai keleluasaan bertarung dengan dugul sehingga beberapa bagian tubuhnya mengalami luka bahkan ekornya putus pada bagian ujung, bahkan yang menyedihkan Sengtong sampai roboh ditabrak dugul.
Kondisi kesehata
n yang menurun dan terus menurun walaupun masih bisa beraktivitas normal membuat kondisinya secara umum melemah. Beberapa penyakit yang menghinggapinya seperti infasi parasit, anemia, kekurangan protein, dll memperburuk keadaannya. Kondisi PLG yang kurang kondusif untuk pemeliharaan gajah juga berpengaruh terhadap kesehatannya. Kejadian terakhir ketika hendak minum pada 3 Januari 2007, Sengtong terjatuh ketika pulang dari tempat ia minum…. 2 kali ia terjerembab. Dengan bobot hampir 3 ton tentu bukan jatuh biasa yang dialami Sengtong. Sebentar meregang nyawa dan Sengtongpun mati.
Malamnya segera dilakukan nekropsi, adapun hasilnya: Secara umum organ-organ seperti hati, jantung, paru, ginjal, limfa, pangkre
as, testis tidak mengalami kelainan, tetapi pada saluran pencernaan (Lambung dan usus terdapat masalah). Lambung dan usus hampir kosong hanya berisi ~ 15 % makanan, usus besar dan lambung ditemukan infasi parasit cacing Paramphistomum sp yang luar biasa banyaknya, hampir tidak ada celah di dinding usus semua tertutup cacing yang bekas perlekatannya meninggalkan nodul-nodul kecil yang apabila tergesek mengeluarkan darah. Kondisi seperti ini menimbulkan anemia kronis, tidak efektif penyerapan makanan  dan menimbulkan pendarahan/infeksi usus/lambung. Dan yang lebih dikawatirkan beberapa gajah lain kemungkinan besar memiliki kasus yang sama dengan Sengtong, jadi keseriussan pengelola (TNWK dan mitra) sangat diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan  terburuk pada gajah lain. Untuk memperkuat diagnosa semua sample organ dikirim ke FKH IPB Bogor.
Kita berharap semoga ini kematian terakhir gajah di PLG Way Kambas, tetapi apabila kita semua tidak serius menanganinya bukan tidak mungkin dalam waktu dekat akan ada gajah-gajah lain yang mati. Sengtong semoga kematianmu memberi pelajaran pada semuanya, semoga raja yang akan menggantikanmu bukan raja yang sakit-sakitan tetapi raja yang kuat dan perkasa. Kini …. sang raja telah tiada.
(Warta konservasi edisi V Maret 2007)

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: