REOG BADAK

Dedi Candra
Bermula dari iimage7861.jpgde DR. Robin WR advisor kesehatan dan reproduksi Sumatran Rhino Sanctuary dari International Rhino Fondation (IRF) Amerika, tentang keinginannya yang besar terhadap patung/topeng kepala badak sumatera. Hampir seluruh desa disekitar Taman Nasional Way Kambas ditelusuri, mencari keberadaan pemahat yang bisa membuat patung kepala badak sumatera menyerupai aslinya. Akhirnya didapatlah pak Ketut Dunia dan Pak Riman dari desa Braja Indah Braja Selebah Lampung Timur yang biasa membuat berbagai macam dan bentuk patung. Seiring dengan selesainya pembuatan patung kepala badak, terdapatlah sebuah grup Reog Ponorogo di desa Labuhan Ratu IX atau yang lebih dikenal dengan nama Plang Ijo yang baru saja berdiri tanggal 1 Februari 2005.
Kabupaten Ponorogo Jawa Timur yang sekarang sudah menjadi kota yang maju, dahulunya berupa tanah Wengker yang merupakan hutan lebat lagi angker. Di Ponorogo terdapat situs tentang berdirinya Kerajaan Bantarangin yang dipimpin oleh Prabu Kelana Sewandana, di situlah awalnya muncul sebuah kesenian yang sekarang dikenal sebagai reog ponorogo. Adapun tarian reog mengambil kisah Panji. Ceritanya berkisar tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana m
encari gadis pujaannya, ditemani prajurit berkuda dan patihnya yang setia, Bujangganong. Ketika pilihan sang prabu jatuh pada putri Kediri, Dewi Sanggalangit, sang Dewi memberi syarat bahwa ia akan menerima cintanya apabila sang prabu bersedia menciptakan sebuah kesenian baru. Maka terciptalah reog ponorogo. Sebenarnya gerakan-gerakan dalam tari reog ponorogo menggambarkan tingkah polah manusia dalam perjalanan kehidupan mulai dari lahir, hidup, hingga mati. Adapun makna dari reog sendiri mengandung kearifan yang dalam. Seiring berjalannya waktu, reog ponorogo menjadi sebuah kesenian yang mempunyai format pementasan yang beragam, meskipun tidak meninggalkan konsep aslinya. Bagian atau unsur dari tarian reog adalah jatil, barongan, dadak merak, kelana sewandana dan warok, bentuk penampilannya lebih individu dimana ketika satu unsur sedang berpentas, unsur yang lain harus diam. Walaupun sekarang sudah sering juga ditampilkan bersamaan (Kompas Jumat 15 Oktober 2004). Ketika pemerintah mengadakan program pemerataan penduduk melalui Transmigrasi, banyak sekali masyarakat Jawa yang eksodus ke Pulau Lain tak terkecuali Pulau Sumatera dan daerah Lampung. Seiring perpindahan penduduk tersebut ikut pula terbawa kesenian dari daerah asal termasuk Reog. Reog ponorogo menjadi sangat terbuka akan pengayaan dan perubahan ragam geraknya dan penarinyapun tidak terbatas dari masyarakat Jawa.
Grup Reog Ponorogo Plang Ijo yang baru terbentuk itu, masih sangat muda walaupun beberapa anggotanya sudah pernah menjadi anggota r
eog. Dipimpin oleh Pak Ru, Reog ini menjadi harapan masyarakat Plang Ijo dalam mengembangkan tradisi leluhur dan pariwisata, anggotanya pun terdiri dari warga masyarakat setempat dari berbagai lapisan umur. Setiap sabtu malam mereka latihan dengan sangat antusias dan warga masyarakatpun turut serta mendukung dengan menghadiri setiap latihan.
Ketertarikan yang tinggi terhadap kesenian atau tradisi asli Indonesia membawa DR. Robin setiap ada waktu selalu melihat latihan dan berdiskusi dengan grup ini, sampai larut malampun dia betah melihat aksi tarian reog. Ibarat kata pepatah tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Gayungpun bersambut melalui pak Ru dedengkot grup Reog yang dengan sangat senang hati dan terbuka menerima tarian Badak masuk menjadi bagian dari Reog yang beliau
pimpin, anggota yang lainpun dengan antusias menyambut bergabungnya tarian badak ke grup mereka. Mulailah Sarno seorang keepers SRS memainkan tarian badaknya, dimana si Sarno memakai kostum badak sumatera lengkap.
Dalam proses penggabungan tarian badak ini tidak terlepas dari peran Karyawan SRS termasuk keeper. Penampilan perdana 3 Maret 2005 di Plang Ijo mendapat sambutan yang luar biasa walaupun tampil dihalaman terbuka dalam cuaca hujan masyarakat tetap setia menyaksikan sarno bergoyang. Selanjutnya ketika ada kunjungan dari IRF, re
og ini tampil dengan menyakinkan. Luar biasa ketika kampung Plang Ijo berubah menjadi desa Labuhan Ratu IX pelantikannya oleh Bupati Lampung Timur juga ditandai aksi reog ini, kegiatan reog ini berlanjut ketika Pak menteri, Gubernur, Bupati dan rombongan berkunjung ke SRS tanggal 18 April 2005. Kolaborasi yang telah dirintis ini, alhamdulillah mendapat support dari petinggi SRS-TNWK. Melalui Marcel (site manager ketika itu) berjanji akan melanjutkan kegiatan ini, hal ini sangatlah penting dalam rangka pendekatan alami kepada masyarakat sekitar yang mempunyai latar belakang dan budaya berbeda-beda.
Oo iya patung kepala badak (yang selanjutnya disebut reog badak) dibuat dari kayu Dadap atau mahoni yang mana kayu jenis ini bukan berasal dari kawasan TNWK dan aksesoris lain tanpa memakai kulit, bulu atau rambut satwa, hal ini dimaksudkan sebagai bagian dari pendidikan dan penyadartahuan bagi masyarakat agar jangan merusak hutan dan memanen satwa seenaknya.
Tak …. Tak ….. tak … tak… tung…. Grup reog kembali berlatih dan berlatih karena mereka sudah siap untuk tampil di muka umum.
(Warta konservasi edisi II June 2005)

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: