Liputan Kedatangan Badak Sumatera “Andalas” ke Indonesia

KEDATANGAN ANDALAS
Februari 2007 – Kepulangan Andalas ke Indonesia seperti halnya dengan traslokasi Badak Sumatera betina Rosa dan Ratu, merupakan salah satu kegiatan yang diprioritaskan dalam strategi konservasi Badak Indonesia (SKBI) yang telah direvisi bulan Februari 2005. Dalam SKBI terdapat butir-butir yang menyebutkan bahwa prioritas kegiatan untuk periode tahun 2006-2010 untuk Badak Sumatera adalah program pengembangbiakkan badak sumatera di SRS Lampung didorong dengan mendatangkan 2-3 ekor Badak Sumatera dari habitat aslinya dan 1 ekor lagi Badak Sumatera dari penangkaran di luar negeri (Amerika).
Kedatangan Andalas mendorong pemerintah Indonesia khususnya Suaka Rhino Sumatera (SRS) untuk dapat mengembangbiakkan badak sumatra dalam sebuah penangkaran (semi ex-situ). Andalas yang dalam kondisi sehat dan siap kawin nantinya akan dipasangkan dengan badak Sumatera betina yang masih muda yaitu Rosa dan Ratu yang sudah lebih dahulu menghuni SRS.

Indonesia akan menerima kedatangan seekor Badak Sumatera (Dicerorhinus Sumatrensis) dari Amerika Serikat pada tanggal 20 Pebruari 2007. Badak jantan yang masih remaja berumur 5 tahun ini bernama Andalas. Andalas adalah Badak Sumatera pertama yang berhasil dilahirkan dari perkawinan di dalam penangkaran (ex-situ).  Andalas lahir pada tanggal 13 September 2001 di Cincinnati Zoo, USA, dari pasangan Badak Sumatera betina bernama emi dan Badak Sumatera jantan bernama Ipuh. Pada tahun 2003, kedua pasangan badak ini juga menghasilkan keturunnan bayi Badak Sumatera betina yang kemudian diberi nama suci. Kedua pasangan badak ini Ipuh dan Emi merupakan Badak Sumatera  hasil tangkapan dari kawasan Bengkulu sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat melalui program penangkapan (capture program) dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia melalui Departemen Kehutanan bekerjasama dengan Sumatran Rhino Trust (SRT) peride tahun 1980-1994. Program penangkapan tersebut ditujukan untuk menyelamatkan Badak Sumatera yang terdesak (doomed) akibat habitat yang makin menyempit dan perburuan. Ipuh ditangkap tahun 1990 dan pada saat itu berumur kira-kira 20 tahunan, sedangkan Emi ditangkap tahun 1991 dan berumur kurang lebih 8 tahun. Kedua badak ini dikirim ke Cincinnati Zoo, USA, karena Cincinnati Zoo berhasil melakukan breeding pada spesies badak lain.
Upaya penangkaran Badak Sumatera dari Indonesia telah berjalan selama 20 tahun. Namun 75 % badak sumatera yang dipelihara dikebun-kebun binatang tersebut mati karena pengelolaan yang kurang tepat selama kurun waktu 1985-1997. Upaya penangkaran Badak Sumatera kini hanya ada di Suaka Rhino Sumatera (SRS) di Way Kambas, Lampung. SRS selesai dibangun tahun 1997 dengan luas kawasan sekitar 100 ha yang merupakan habitat alami badak sumatera. Tahun 1998 SRS sudah dihuni oleh tiga Badak Sumatera , yaitu Bina (betina, 15 tahun), Dusun (betina, 17 tahun), dan Torgamba (jantan, 20 tahun). Namun pada tanggal 7 Pebruari 2001 Dusun mati karena sakit kronis dan faktor ketuaan (usia).
Sejak dibangunnya SRS sampai dengan sekarang, SRS belum berhasil melaksanakan breeding pada Bina. Hal tersebut disebabkan beberapa asumsi seperti usia kedua Badak Sumatera , Bina dan Torgamba, sudah tua, hasil pemeriksaan laboratorium juga menunjukkan bahwa sel sperma Torgamba sangat sedikit dan lemah sehingga kemungkinan untuk membuahi juga kecil.
Rencananya Andalas yang sehat dan siap kawin akan dipasangkan dengan Badak Sumatera betina muda Rosa dan Ratu yang telah lebih dahulu menghuni SRS. Rosa adalah Badak Sumatera betina berumur kurang lebih 5 tahun yang berasal dari hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Badak betina ini pertama kali ditemukan pada bulan Mei 2004 kemudian kerap muncul di jalan tembus antara Sukaraja-Pemerihan, Lampung. Pemantuan oleh Rhino Protection Unit (RPU) yang dilakukan selama tahun 2005 menunjukkan bahwa Rosa sering keluar hutan dan berada di kebun masyarakat juga tidak takut didekati oleh manusia. Perilaku badak yang tidak biasa dilakukanlah usaha penyelamatan badak Rosa sehingga Rosa berhasil dipindahkan ke SRS pada tanggal 26 Nopember 2005.
Ratu, seperti halnya Rosa adalah Badak Sumatera betina berumur kurang lebih 6 tahun berasal dari hutan Taman Nasinoal Way Kambas. Namun Ratu bukan badak yang jinak. Ratu ditemukan ditengah perkampungan dan lahan pertanian penduduk karena takut kehadiran manusia. Selama kurang lebih 5 jam berlari-larian di tengah perkampungan, lahan pertanian, jalan raya beraspal atau berbatu dalam kondisi cuaca yang panas. Walaupun beberapa kali sempat masuk rawa, kolam di halaman rumah dan sungai-sungai kecil Ratu sempat berlari sejauh kurang lebih 20 kilometer. Ratu akhirnya berhenti berlari karena kehabisan tenaga di pinggir sungai kecil di kecamatan Labuhan Ratu (4 km dari batasan kawasan TNWK). Pada hari itu juga, yaitu tanggal 26 September 2005, Ratu dipindahkan ke SRS. (hya)

Balai Besar Karantina Hewan Soekarno-Hatta (www.khsh.go.id) 

Badak “Andalas” Tiba di Cengkareng Selasa Malam

20/02/07 11:54 – Bandarlampung (ANTARA News) – Badak Sumatera berjuluk “Andalas”, Selasa malam dijadwalkan tiba di Bandara International Soekarno-Hatta, setelah melakukan perjalanan jauh saat dikembalikan ke Indonesia oleh sebuah kebun binatang di Los Angeles (LA), Amerika Serikat (AS).

Sesampainya di bandara Soekarno-Hatta, “Andalas” akan diseberangkan melalui Pelabuhan Merak Banten menuju Bakauheni, Lampung Selatan dengan kapal ferry untuk selanjutnya dikembalikan ke habitatnya di hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung Timur, kata Marcellus Manajer Penangkaran Badak Sumatera (SRS) di TNWK.
Badak bercula dua (Dicerorhinus Sumatrensis) ini diperkirakan tiba di Lampung, Rabu (21/2).
Menurutnya, “Andalas” merupakan keturunan pertama (anak) dari pasangan Badak Sumatera yang menghuni kebun binatang di Cincinnati-AS yang berhasil dibiakkan di sana.
Pengembalian badak itu, sebagai bagian program global untuk penyelamatan badak Sumatera, dengan harapan “Andalas” menjadi pejantan baru yang produktif, dapat membuahi badak betina di pusat penangkaran badak Sumatera (Suaka Rhino Sumatera/SRS) di hutan Lampung itu.
Menurut Drh Marcellus Adi CTR, Site Manager Suaka Rhino Sumatera (SRS/Sumatera Rhino Sanctuary) di TNWK, tempat “Andalas” akan diliarkan kembali, Selasa (20/2) malam itu juga badak jantan muda itu akan dibawa menyeberang ke Lampung menggunakan jalan darat sehingga mesti lebih dulu berlayar di Selat Sunda.
“Andalas” dan rombongan penjemput serta pengantarnya perlu menyewa satu kapal ferry khusus, untuk membawanya ke Bakauheni-Lampung yang selanjutnya melalui jalan darat sampai ke TNWK di Lampung Timur.
Sementara itu di SRS TNWK telah disiapkan tempat berupa kandang adaptasi bagi “Andalas”, sebelum diliarkan kembali pada areal seluas sekitar 100 ha di dalam hutan TNWK itu.
Di sana telah hidup empat ekor badak Sumatera yang merupakan bagian program penangkaran semi-alami di hutan TNWK, yaitu Torgamba (badak jantan), Bina, Rosa, dan Ratu (ketiganya adalah badak betina).
Hingga saat ini program penangkaran badak Sumatera di SRS TNWK belum berhasil membiakkan anak badak. Diduga akibat kualitas pembuahan Torgamba yang usianya cukup tua, relatif kurang bagus, sehingga belum berhasil membuahi tiga badak betina di sana padahal telah berkali-kali terjadi perkawinan diantara badak itu.
Pengelolaan penangkaran badak di TNWK dijalankan oleh Yayasan Suaka Rhino Sumatera yang mendapatkan dukungan dari sejumlah lembaga internasional, diantaranya International Rhino Foundation (IRF).
Penangkaran dan pembiakan badak Sumatera menjadi program alternatif untuk menyelamatkan salah satu spesies badak yang tergolong sangat langka dan dilindungi di dunia. (Copyright © 2008 ANTARA)

Indonesia Terima Badak Jantan dari AS
21/02/07 00:28 – Jakarta (ANTARA News) – Indonesia menerima seekor badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dari Amerika Serikat (AS) berjenis kelamin jantan dalam rangka program pengembangbiakan jenis hewan tersebut.
“Populasi badak Sumatera sekarang ini turun begitu drastis dari sekitar 800 ekor menjadi 300 ekor akibat berbagai hal seperti perburuan dan rusaknya habitat,” kata MS Kaban, Menteri Kehutanan dalam acara penyerahan badak Sumatera dari AS kepada Indonesia di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, Selasa.
Badak jantan berusia lima tahun bernama Andalas itu, menurut dia akan dikawinkan dengan dua ekor badak Sumatera betina bernama Rosa dan Ratu di Taman Nasional Way Kambas, Provinsi Lampung.
“Kepulangan Andalas ke Indonesia merupakan salah satu kegiatan yang diprioritaskan dalam Strategi Konservasi Badak Indonesia (SKBI) yang telah direvisi bulan Februari 2005,” katanya. Ia mengatakan, andalas adalah badak Sumatera pertama yang berhasil dilahirkan dari perkawinan di dalam penangkaran pada 13 September 2001 di kebun binatang Cincinnati, AS dari pasangan badak Sumatera betina Emi dan yang jantan Ipuh.
“Ketika habitat badak Sumatera di Indonesia turun drastis, para ahli segera menyebar berbagai badak itu ke beberapa kebun binatang dunia untuk dilakukan penelitian serta perkembangbiakan pada hewan tersebut,” ujar dia. Dari berbagai kebun binatang itu, ujarnya, badak Sumatera yang ada di kebun binatang Amerika itulah yang mengalami kemajuan serta melahirkan Andalas dan dua ekor badak lainnya.
“Upaya penangkaran badak Sumatera dari Indonesia telah berjalan selama 20 tahun, namun 75 persen badak Sumatera yang dipelihara di kebun-kebun binatang tersebut mati karena pengelolaan yang kurang tepat selama kurun waktu 1985-1997,” tuturnya.
Upaya penangkaran badak Sumatera, ujar MS Kaban, kini hanya ada di Suaka Rhino Sumatera (SRS) di Way Kambas yang selesai dibangun tahun 1997 dengan luas kawasan sekitar 100 ha. “Sebelumnya di Way Kambas sudah dilakukan proses perkembangbiakan antara badak betina Sumatera bernama Bina dengan seekor badak jantan dari Inggris bernama Torgamba, tetapi ternyata tidak berhasil karena badak Sumatera yang dikembang- biakan di Ingris itu kurang subur,” ucapnya.
Oleh karena itu, ucapnya upaya mengembangbiakan “Andalas” dengan “Ratu” dan “Rosa” adalah sebuah langkah awal dari proes pelestarian badak Sumatera. “Semoga saja Andalas dengan Ratu dan Rosa dapat menghasilkan keturunan, sehingga tidak terjadi kepunahan pada hewan yang dilindungi tersebut,” ujarnya.
Seluruh proses penerimaan badak Sumatera dari AS bernama Andalas itu sampai dengan mengantarkannya ke Way Kambas memakan biaya hingga 70 ribu dollar AS atau sekitar Rp 630 juta yang ditanggung oleh sponsor dan pemerintah. “Semua dana datang dari para pemerhati hewan langka tersebut, dan yang jelas bukan dari cukong,” tambah dia. (Copyright © 2008 ANTARA)

Badak “Andalas” Tiba di Lampung Tengah Malam
21/02/07 08:13 – Bakauheni, Lampung (ANTARA News) – “Andalas”, badak jantan muda kelahiran AS, tiba di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, Rabu (21/2) lewat tengah malam, setelah diterbangkan ke Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, dan melintasi Selat Sunda. Wartawan ANTARA Bandarlampung yang mengikuti secara lansung perjalanan darat rombongan “Andalas” menyaksikan proses kedatangan badak berusia lima tahun yang akan kembali ke habitat aslinya di hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung Timur.
Andalas tiba di Dermaga I Pelabuhan Bakauheni sekitar pukul 02.30 WIB setelah berlayar dari Merak pukul 00.15 WIB. Badak anak dari pasangan badak Sumatera bercula dua (Dicerorhinus sumatrensis) Ipuh dan Emi itu melakukan konvoi menyusuri Jalinsum menuju TNWK.
Namun dalam perjalanan beberapa kali rombongan berhenti di jalan, antara lain untuk melakukan pengecekan di balai karantina hewan Bakauheni melakukan cek data kesehatan dan izin melintas.
Konvoi rombongan Andalas mencapai seratusan meter, di antaranya rombongan wartawan dan pengelola SRS maupun TNWK yang dikawal polisi dalam perjalanan itu. Ternyata badak Andalas juga sempat mengalami kepanasan sehingga harus berhenti untuk disiram air di tubuhnya menggunakan gayung, oleh petugas yang berada di mobil pengangkutnya. “Dia kepanasan dalam perjalanan di kapal tadi,” kata Kepala TNWK, Mega Haryanto pula.   Andalas tiba di TNWK, Rabu pagi, untuk mendapatkan tempat hidup barunya di Suaka Rhino Sumatera (SRS) TNWK sebagai kandang alami seluas sekitar 100 ha, dari luas areal hutan itu secara keseluruhan yang mencapai 130.000-an ha.  (Copyright © 2008 ANTARA)

SATU KAPAL RORO DISEWA ANGKUT BADAK SUMATERA DARI AMERIKA
Cilegon (ANTARA) – Satu unit kapal mesin penumpang (KMP) Roll On Roll Off (Roro) bernama Jatra III milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Ferry Indonesia, Tbk disewa khusus untuk mengantarkan badak Sumatera kiriman dari Amerika.
Kapal Jatra III tersebut menyeberangkan badak Sumatera yang akan ditangkarkan di Suaka Rhino Sumatera (SRS) di Way Kambas, Lampung untuk dikembangbiakan, kata Manager Operasional PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Ferry Indonesia Cabang Utama Merak Endin Juhaendi, di Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten, Rabu. “Satu unit kapal Roro” sengaja disewa pihak Internasional Rhino Foundation (IRF) khusus untuk mengangkut Badak dari Pelabuhan Merak menuju Bakauheni,” katanya kepada ANTARA.
Selain mengantarkan truk pengangkut badak Sumatera yang bernama Andalas tersebut, kapal Jatra III mengangkut rombongan pengantar badak Sumatera yang terdiri dari 29 unit kendaraan roda empat, truk dan bus serta sekitar 100 orang panitia dari berbagai lembaga nasional dan internasional yang peduli terhadap kelangsungan hewan langka tersebut. Menurut Endin, meski satu unit kapal Roro disewa khusus mengantarkan badak Sumatera, namun tidak menghentikan jadwal angkutan penyeberangan kapal Roro di Pelabuhan Merak, karena tidak mengganggu pelayanan penyeberangan penumpang. Badak bercula dua tersebut sengaja diterbangkan dari Amerika pada hari Minggu (18/2) sekitar pukul 18.00 waktu setempat, dan tiba di Indonesia melalui Bandara Internasional Soekarno – Hatta Jakarta, pada hari Selasa (20/2) sekitar pukul 17.35 WIB.
Selanjutnya kendaraan rombongan pengantar Andalas langsung menuju ke Pelabuhan Merak sekitar pukul 22.00 WIB. Sebelum melakukan penyeberangan ke Bakauheni, kendaraan truk pengangkut Andalas mendapatkan pemeriksaan dokumen dan penyemprotan disinfektan anti kuman yang dilakukan oleh petugas dari Stasiun Karantina Hewan (SKH) wilayah Merak, Banten. Akhirnya hewan yang terancam punah dan kendaraan rombongan tersebut pada Rabu dini hari (21/2) sekitar pukul 00.00 WIB memasuki badan kapal yang menempati ruang kapal tempat parkir kendaraan dan bertolak ke Bakauheni.
Adapun rombongan pengantar hewan liar dan langka tersebut terdiri dari Dinas Kehutanan, IRF, Suaka Rhino Sumatera (SRS) dan Stasiun Karantina Hewan (SKH) cabang Soekarno Hatta. Dokter hewan spesialis badak Sumatera dari Institut Pertanian Bogor dr Muhammad Agil yang ikut serta dalam rombongan itu mengatakan, badak termasuk hewan yang sangat peka terhadap penciuman dan pendengarannya, sehingga harus melakukan perjalanan pada malam hari. Untuk akomodasi pakan Andalas, panitia pun membawa kendaraan khusus pengangkut makanan berupa pisang, pepaya, apel, daun beringin, ara lebar dan angsana serta air untuk minum.

22 Feb 2007 – 03:48:40 (Pemerintahan Kota Cilegon www.cilegon.go.id)

Kapal Jatra III Angkut Badak Sumatera dari Amerika 
Cilegon — Kapal mesin penumpang (KMP) Jatra III milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Ferry Indonesia disewa khusus menyeberangkan badak bercula dua Sumatera yang dilahirkan di Amerika Serikat (AS).
“Kapal Jatra III tersebut menyeberangkan badak bercula dua Sumatera yang akan dikembangkan di Suaka Rhino Sumatera (SRS) di Way Kambas, Lampung,” ujar Endin Juhaendi, Manajer Operasional PT ASDP Ferry Indonesia Cabang Utama Merak, Rabu (21/2), seraya menambahkan kapal roro disewa pihak International Rhino Foundation (IRF) khusus untuk mengangkut badak dari Pelabuhan Merak menuju Bakauheni.
Selain mengantarkan badak bercula dua bernama Andalas, Kapal Jatra III mengangkut rombongan pengantar yang terdiri dari 29 kendaraan roda empat, truk dan bus serta sekitar 100 panitia dari berbagai lembaga nasional dan internasional.
Menurut Endin, meski satu kapal roro disewa khusus mengantarkan badak sumatera, hal itu tidak mengganggu jadwal penyeberangan penumpang dan kendaraan. Badak bercula dua tersebut sengaja diterbangkan dari Amerika, Minggu (18/2) sekitar pukul 18.00 waktu AS. Tiba di Indonesia di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Selasa (20/2) sekitar pukul 17.35 WIB.
Selanjutnya kendaraan rombongan pengantar Andalas langsung menuju Pelabuhan Merak sekitar pukul 22.00 WIB. Sebelum melakukan penyeberangan ke Bakauheni, truk pengangkut Andalas mendapatkan pemeriksaan dokumen dan penyemprotan disinfektan antiku-man oleh petugas dari Stasiun Karantina Hewan (SKH) wilayah Merak, Banten.
Akhirnya badak bercula dua sumatera yang terancam punah dan kendaraan rombongan tersebut, Rabu (21/2) dini hari sekitar pukul 00.00 memasuki badan kapal yang menempati ruang parkir kendaraan dan bertolak ke Bakauheni. Rombongan pengantar hewan itu terdiri dari Dinas Kehutanan, IRF, Suaka Rhino Sumatera (SRS) dan Stasiun Karantina Hewan (SKH) cabang Soekarno-Hatta.
Di Amerika
Seekor badak turunan badak bercula dua sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dilahirkan dan dibesarkan di salah satu kebun binatang di Amerika. Badak itu diberi nama Andalas. “Rencananya kedatangan Andalas tersebut untuk memprioritaskan program perkembangbiakan badak Sumatera di Strategi Konservasi Badak Indonesia (SKBI) yang berada di Way Kambas, Lampung,” kata Muhammad Agil, dokter hewan spesialis badak sumatera dari Departemen Klinik Reproduksi dan Patologi Institut Pertanian Bogor (IPB) di Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten. Program pengembangbiakan tersebut untuk mengatasi ancaman kepunahan populasi hewan badak sumatera di dunia, sehingga dikembangkan program pengembangbiakan badak Sumatera yang dipusatkan di Lampung. Andalas merupakan badak bercula dua yang lahir di Cincinnati Zoo, USA pada 13 September 2001 dari pasangan badak Sumatera jantan bernama Ipuh dan badak Sumatera bernama Emi yang berusia 20 tahun. Selain Andalas, Ipuh dan Emi pun menghasilkan keturunan badak betina pada tahun 2003 yang diberi nama Suci. Menurut Agil, upaya penangkaran badak sumatera dari Indonesia sudah berjalan hampir 20 tahun. Namun, 75 persen badak Sumatera yang dipelihara tidak berhasil berkembang biak. Sebaliknya, banyak badak yang mati karena pengelolaan yang tidak tepat.
Ipuh dan Emi, badak bercula dua sumatera ditangkap di Taman Nasional Kerinci, Bengkulu tahun 1985-1994. Kedua badak ini dibawa ke Kebun Binatang Cincinnati Amerika untuk program penangkaran.
Muhamad Agil mengatakan populasi badak sumatera bercula dua tinggal 150 ekor di Indonesia. Di dunia, jumlahnya 200-300 badak. Dengan alasan terancam punah, program pengembangbiakan badak pun dijalankan. Berdasarkan penelitian, Andalas merupakan keturunan yang berkualitas karena memiliki sperma yang bagus. Badak ini juga diharapkan dapat dikawinkan dengan dua badak sumatera betina muda, yakni Rosa dan Ratu yang sudah berada di penangkaran Suaka Rhino Sumatera (SRS), di Way Kambas, Lampung untuk menambah populasi badak sumatera. (iman nur rosyadi)

www.sinarharapan.co.id

Andalas Pulang Ke Indonesia
21 Februari 2007 Rabu. Badak jantan Sumatra kelahiran Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat, tiba di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten, Selasa (20/2) kemarin. Kedatangan badak bernama Andalas, yang baru berumur lima tahun tersebut disambut Menteri Kehutanan Malam Sambat (MS) Ka’ban. Saat Andalas diturunkan dari peti khusus, kondisinya terlihat lelah dan lapar. Menhut langsung memberinya makanan, berupa daun segar.
Badak Sumatra ini selanjutnya dibawa ke Suaka Rhino Sumatera (SRS) di Way Kambas, Lampung. Di Way Kambas, Andalas sudah ditunggu dua badak Sumatra betina sebayanya, bernama Rosa dan Ratu. Kedua badak betina tersebut akan dikawinkan dengan Andalas. Perkawinan Andalas dengan dua badak Sumatra Betina itu diharapkan dapat menambah populasi jumlah badak Sumatra yang semakin menipis.
Menhut mengatakan perkawinan tersebut akan menjadi tantangan bagi pengelola suaka margasatwa untuk melestarikan satwa langka di Indonesia. Andalas dilahirkan dari pasangan badak Sumatra bernama Emi dan Ipuh di Kebun Binatang Cincinnati, Amerika Serikat, pada 2001.

www.perempuan.com

INDONESIA MENERIMA SEEKOR BADAK JANTAN DARI AS
19-02-2007 – Indonesia akan menerima kedatangan seekor badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dari AS pada tanggal 20/02/2007. Badak jantan yang masih remaja berumur 5 tahun ini bernama Andalas, untuk mendorong pemerintah Indonesia khususnya Suaka Rhino Sumatra (SRS) untuk dapat mengembangbiakkan badak Sumatera dalam sebuah penangkaran (semi ex-situ). Andalas yang dalam kondisi sehat dan siap kawin nantinya akan dipasangkan dengan badak Sumatera betina yang masih muda yaitu Rosa dan Ratu yang sudah lebih dahulu menghuni SRS.
Kepulangan Andalas ke Indonesia seperti halnya dengan translokasi badak Sumatera betina, Rosa dan Ratu, merupakan salah satu kegiatan yang diprioritaskan dalam Strategi Konservasi Badak Indonesia (SKBI) yang telah direvisi bulan Februari 2005. Dalam SKBI terdapat butir-butir yang menyebutkan bahwa Prioritas Kegiatan untuk periode tahun 2006-2010 untuk badak Sumatera adalah program pengembangbiakan badak Sumatera di SRS Lampung dengan mendatangkan 2-3 ekor badak Sumatera dari habitat aslinya dan 1 ekor lagi badak Sumatera dari penangkaran di luar negeri.
Andalas adalah badak Sumatera pertama yang berhasil dilahirkan dari perkawinan di dalam penangkaran (ex-situ). Andalas lahir pada tanggal 13 September 2001 di Cincinnati Zoo, USA, dari pasangan badak Sumatera betina bernama Emi dan badak Sumatera jantan bernama Ipuh. Pada tahun 2003, kedua pasangan badak ini juga menghasilkan keturunan bayi badak Sumatera betina yang kemudian diberi nama Suci. Kedua pasangan badak ini, Ipuh dan Emi, merupakan badak Sumatera hasil tangkapan dari kawasan Bengkulu sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat melalui program penangkapan (capture program) dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia melalui Departemen Kehutanan bekerjasama dengan Sumatran Rhino Trust (SRT) periode tahun 1980-1994. Program penangkapan tersebut ditujukan untuk menyelamatkan badak Sumatera yang terdesak (doomed) akibat habitat yang makin menyempit dan perburuan.
Ipuh ditangkap tahun 1990 dan pada saat itu berumur kira-kira 20 tahun-an, sedang kan Emi ditangkap tahun 1991 dan berumur kurang lebih 8 tahun. Kedua badak ini dikirim ke Cincinnati Zoo, USA, karena Cincinnati Zoo berhasil melakukan breeding pada spesies badak lain.
Upaya penangkaran badak Sumatera dari Indonesia telah berjalan selama 20 tahun. Namun 75% badak Sumatera yang dipelihara di kebun-kebun binatang tersebut mati karena pengelolaan yang kurang tepat selama kurun waktu 1985-1997. Upaya penangkaran badak Sumatera kini hanya ada di Suaka Rhino Sumatera (SRS) di Way Kambas, Lampung. SRS selesai dibangun tahun 1997 dengan luas kawasan sekitar 100 ha yang merupakan habitat alami badak Sumatera.
Tahun 1998 SRS sudah dihuni oleh tiga badak Sumatera, yaitu Bina (betina, 15 tahun), Dusun (betina, 17 tahun), dan Torgamba (jantan, 20 tahun).
Namun pada tanggal 7 Februari 2001 Dusun mati karena sakit kronis dan faktor ketuaan (usia).
Sejak dibangunnya SRS sampai dengan sekarang, SRS belum berhasil melaksanakan breeding pada Bina. Hal tersebut disebabkan beberapa asumsi seperti usia kedua badak Sumatera, Bina dan Torgamba, sudah sangat tua; hasil pemeriksaan laboratorium juga menunjukkan bahwa sel sperma Torgamba sangat sedikit dan lemah sehingga kemungkinan untuk membuahi juga kecil.
Rencananya Andalas yang sehat dan siap kawin akan dipasangkan dengan Badak Sumatera betina muda Rosa dan Ratu yang telah lebih dahulu menghuni SRS. Rosa adalah badak Sumatera betina berumur kurang lebih 5 tahun yang berasal dari hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.
Badak betina ini pertama kali ditemukan pada bulan Mei 2004 kemudian kerap muncul di jalan tembus antara Sukaraja-Pemerihan, Lampung. Pemantauan oleh Rhino Protection Unit (RPU) yang dilakukan selama tahun 2005 menunjukkan bahwa Rosa sering keluar hutan dan berada di kebun
masyarakat juga tidak takut didekati oleh manusia. Perilaku badak yang tidak biasa tersebut menimbulkan kekhawatiran bagi semua pihak. Oleh karena itu dilakukanlah usaha penyelamatan badak Rosa sehingga Rosa berhasil dipindahkan ke SRS pada tanggal 26 Nopember 2005.
Ratu, seperti halnya Rosa, adalah badak Sumatera betina berumur kurang lebih 6 tahun berasal dari hutan Taman Nasional Way Kambas. Namun Ratu bukan badak yang jinak. Ratu ditemukan di tengah perkampungan dan lahan pertanian penduduk karena takut kehadiran manusia. Selama kurang lebih 5 jam berlari-larian di tengah perkampungan, lahan pertanian, jalan raya beraspal atau berbatu dalam kondisi cuaca yang panas. Walaupun beberapa kali sempat masuk rawa, kolam di halaman rumah dan sungai-sungai kecil Ratu sempat berlari sejauh kurang lebih 20 kilometer.
Ratu akhirnya berhenti berlari karena kehabisan tenaga di pinggir sungai kecil di kecamatan Labuhan Ratu (4 km dari batas kawasan TNWK). Pada hari itu juga, yaitu tanggal 26 September 2005, Ratu berhasil dipindahkan ke SRS. (REPUBLIK INDONESIA  www.indonesia.go.id)

DEPHUT DATANGKAN ANDALAS DARI AS
Jakarta, 19/2/2007 (Kominfo-Newsroom) – Departemen Kehutanan akan mendatangkan seekor badak Sumatera jantan bernama Andalas dari Amerika Serikat untuk dikawinkan dengan dua badak betina di pusat penangkaran badak Taman Nasional Way Kambas, Lampung.
“Kepulangan Andalas adalah salah satu kegiatan prioritas dalam strategi konservasi badak Indonesia atau SKBI yang telah direvisi pada 2005 lalu,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Departemen Kehutanan, Ir. Arman Mallolongan saat jumpa pers, Senin (19/2) di Jakarta.
Dalam SKBI terdapat butir yang menyebutkan bahwa prioritas kegiatan ini untuk periode 2006 hingga 2010 bahwa pengembang-biakkan badak Sumatera di Suaka Rhino Sumatera (SRS) Lampung didorong dengan mendatangkan dua hingga tiga ekor badak dari habitat aslinya dan satu ekor badak hasil penangkaran di luar negeri. “Andalas merupakan badak Sumatera pertama yang berhasil lahir dari perkawinan dalam penangkaran,” ujar Arman.
Upaya penangkaran badak Sumatera di beberapa kebun binatang di luar negeri dikatakan Arman merupakan program yang ditujukan untuk menyelamatkan badak Sumatera dari kepunahan dan habitatnya yang makin menyempit karena berbagai hal.
Sebelum mendatangkan Andalas, pemerintah Indonesia beberapa tahun lalu telah melakukan penangkaran badak Sumatera di TN. Way Kambas dengan pejantan bernama Torgamba dan betina bernama Bina.
Namun hingga kini belum mendapatkan hasil akibat beberapa faktor, diantaranya adalah pemeriksaan medis yang menyatakan kemandulan Torgamba, disamping usianya yang memang sudah tua.
Dengan kedatangan Andalas, TN. Way Kambas kini mempunyai lima badak Sumatera lain, yaitu Torgamba, Bina serta dua betina muda bernama Rosa dan Ratu yang diharapkan bisa di kawinkan dengan Andalas. Pada kesempatan yang sama Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Dephut, Ir. Adi Susmiyanto mengatakan bahwa berbagai upaya penyelamatan badak Sumatera sejak tahun 1980 telah dilakukan Dephut, salah satunya adalah proses penangkaran.
“Namun hanya sedikit yang berhasil dan salah satunya adalah Chincinnati Zoo di Amerika,” ujarnya. Dephut mengirim dua badak Sumatera bernama Ipuh dan Emi ke kebun binatang tersebut sekitar 10 tahun lalu, karena sebelumnya Chincinnati Zoo juga telah berhasil melakukan penangkaran badak dan hewan spesis lainnya. Hasilnya adalah Andalas lahir pada tahun 2001 dan tahun 2003 Ipuh dan Emi juga melahirkan seekor badak betina bernama Suci.
“Hanya Andalas yang kami datangkan karena memang kami hanya membutuhkan pejantan untuk dua betina di Way Kambas,” lanjut Adi.
Badak Sumatera bersama dengan badak Jawa telah ditetapkan sebagai hewan yang paling terancam punah dengan habitat yang tersisa hanya sekitar 200 ekor, sedangkan badak Jawa tinggal sekitar 63 ekor yang berada di alam bebas di TN Way Kambas dan Ujung Kulon.
Andalas sendiri menurut rencana akan tiba di bandara Soekarno-Hatta dari Amerika Serikat sekitar pk.16.00 WIB, Selasa (20/2) dengan menggunakan pesawat komersial dan akan diterima oleh Menhut sebelum dibawa menuju TN. Way Kambas Lampung. (T.Tr/id/b)

Departemen Komunikasi Dan Informatika, Badan Informasi Publik –  www.kominfo.go.id       

Badak Jantan ‘Mudik’ Badak Betina Dikirim ke AS
KEMKOKESRA-OL, 21 Februari:  Pengembalian badak Sumatera jantan bernama Andalas dari Amerika Serikat (AS) ke Indonesia rencananya akan diikuti dengan pengiriman badak sumatera betina bernama Bina ke Cincinnati, AS. Pengiriman itu akan dilakukan apabila dalam waktu satu tahun setelah kedatangannya Andalas tidak ada kehamilan pada Bina.
Demikian dikatakan Sekretaris Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Departemen Kehutanan Adi Susmiyanto dalam acara pelepasan Andalas ke habitat asli di Suaka Rhino Sumatera di Taman Nasional Way Kambas (SRS TNWK), Rabu (21/2). Adi mengatakan, di SRS TNWK saat ini terdapat tiga badak betina dan satu badak jantan.
Namun, hingga saat ini belum juga terjadi kehamilan pada badak-badak betina di SRS TNWK. Dikembalikannya Andalas yang merupakan hasil perkawinan antara Ipuh dan Emmy, dua badak Sumatera yang dibawa ke Amerika Serikat pada kurun waktu 1990-an, menjadi harapan supaya mampu mengawini dan membuat badak betina di SRS TNWK hamil.
M. Agil, Veterinary Advisor SRS TNWK pada kesempatan yang sama mengatakan, kembalinya Andalas ke Indonesia atau ke habitat aslinya, diharapkan bisa membuat dua badak sumatera betina bernama Bina dan Rosa di SRS TNWK segera bunting. Itu karena dari satu satunya badak sumatera jantan di SRS TNWK, sejak 1998 hingga saat ini belum terjadi kehamilan pada badak betina di SRS.
Menurut Agil, salah satu yang paling mungkin segera hamil adalah Bina, badak betina berusia 24 tahun. Sesuai hasil pemeriksaan darah, sel darah Andalas mengandung testosteron yang cukup tinggi yang berpotensi membuat badak betina bisa hamil apabila terjadi perkawinan.
Adi menambahkan, wacana pengiriman Bina ke AS sudah dibicarakan bersama Global Management Propagation Board (GMPB) sewaktu membicarakan pengembalian. GMPB merupakan pihak-pihak terkait dalam proses pengembalian Andalas ke Indonesia, diantaranya seperti Direktorat PHKA Departemen Kehutanan, International Rhino Foundation (IRF), Yayasan Badak Indonesia, dan SRS.
Apabila dalam waktu satu tahun setelah kedatangan Andalas belum juga ada kehamilan pada badak betina di SRS, kata Adi, kemungkinan Bina akan segera dikirim. ”Kita tidak bisa menunggu lagi Torgamba bisa membuktikan mampu membuat badak betina hamil, terlalu lama bagi Bina.
Namun masih ada harapan bagi Rosa dengan datangnya Andalas,” kata Adi.
Agil mengatakan, kembalinya Andalas yang lahir pada 13 September 2001 di Kebun Binatang Cincinnati, AS, ke Indonesia, merupakan upaya yang cukup lama dan bernilai politis. ”Mana ada satwa langka kita yang sudah dibawa ke luar negeri bisa diminta kembali,” katanya.
Nico van Strien, IRF Asia Coordinator mengatakan, Andalas sendiri tiba di SRS TNWK pada Rabu (21/2) pagi pukul 07.00 setelah menempuh perjalanan 62 jam dari Kebun Binatang Los Angeles, AS ke Indonesia. Perjalanan dari Los Angeles menuju Bandar Udara Soekarno Hatta, Jakarta ditempuh dengan pesawat.
Setelah diterima Menteri Kehutanan pada Selasa (20/2) pukul 19.00, Andalas langsung dibawa ke SRS TNWK melalui jalan darat. Saat ini Andalas masih menjalani masa karantina selama 30 hari supaya ia bisa beradaptasi dengan lingkungan, terutama dengan penyakit-penyakit ataupun parasit asli hutan tropis yang tidak pernah ia temui selama lima tahun tinggal di Kebun Binatang Los Angeles. 
(kcm/broto) 
www.menkokesra.go.id      

Andalas Mulai Beradaptasi di SRS TNWK
BANDARLAMPUNG-MIOL: Andalas, badak Sumatera bercula dua (Dicerorhinus sumatrensis) yang dipulangkan dari kebun binatang AS dan telah berada di penangkaran di hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur sejak Rabu (21/2), mulai beradaptasi.
Informasi dari pengelola Suaka Rhino Sumatera/Sumatera Rhino Sanctuary (SRS) pusat penangkaran badak Sumatera di Way Kambas-Lampung Timur, Sabtu, menyebutkan, proses adaptasi dan penyesuaian diri Andalas pada habitat hutan alami itu terus berlangsung.
Andalas sampai hari ke-5 pada Minggu masih berada di kandang sementara di SRS TNWK yang diselubungi kelambu sekelilingnya.
Namun menurut Site Manager SRS TNWK, drh. Marcellus Adi CTR, sampai saat ini Andalas sudah normal makannya walaupun belum banyak seperti biasa di tempat hidup lamanya di kebun binatang Los Angeles maupun Cincinnati. “Paling banyak makannya setiap hari sekitar 15 Kg dedaunan dan makanan lainnya,” ujar Marcellus pula.
Kendati begitu, secara umum kondisi badak jantan muda 5,5 tahun yang dilahirkan dari induknya badak asal Bengkulu, Emi dan Ipuh, di Cincinnati Zoo-AS, sudah tidak mengalami stres lagi akibat perjalanan panjang selama 62 jam ke Indonesia/Lampung dari AS.
“Paling tidak kondisi itu nampak dari kaki belakangnya yang sudah tidak kaku dan pada hari kedua, Kamis (22/2) lalu, badak itu sudah bisa lari-lari dan membuat kubangan di tempat hidupnya yang baru,” cetus Marcellus pula.
Hasil pengamatan selama tiga hari menunjukkan bahwa Andalas sangat menikmati berkubang.
Pengecekan kondisi defekasinya normal dan hasil analisa sampel darah juga baik.
Menurut dia, semula sejak berada di SRS TNWK proses urinasi (pengeluaran air kencingnya) belum teramati, sehingga sempat membuat pihak SRS TNWK agak khawatir.
Walaupun menurut pengasuhnya (keeper) yang dibawa dari AS, Steve Romo, memang selama di AS, Andalas tidak terlalu sering kencing. Tapi akhirnya urinasi bisa normal sampa 10 liter pada malam ke-2 di SRS itu. Ternyata selama dalam perjalanan di dalam kandang angkut, Andalas juga terlihat sering menggosok-gosok kepala ke dinding kandang, sehingga sempat terjadi gangguan di mata dengan keluar discharge.
“Kelainan pada mata itu langsung diobati dengan salep mata, dan sekarang sudah sembuh,” kata Marcellus menjelaskan. Kondisi berat badan Andalas juga terlihat agak turun sekarang mencapai 665 Kg. Berat badan ini dinilai masih dalam batas normal.
Begitupula luka-luka yang dialami akibat pergerakan selama perjalanan udara dan darat di dalam kandang, diantaranya tulang ekor belakang yang sedikit cedera karena benturan dengan kandangnya, sudah diobati dan tidak menjadi lebih parah lagi. Para dokter hewan dan pengasuh badak itu di SRS TNWK itu juga mulai menyiapkan Andalas untuk terbiasa dengan hewan parasit hutan, seperti caplak (kutu besar). Setidaknya telah dibiasakan adanya caplak sebanyak tiga ekor di sekitar Andalas sejak hari kedua sebagai bagian dari proses adaptasi hidup di hutan. “Hingga hari ini belum terlihat adanya pengaruh keberadaan caplak itu, walaupun masih terus kami monitor,” kata Marcellus lagi.
Evaluasi SRS TNWK menunjukkan proses adaptasi Andalas itu telah berlangsung dengan baik, sehingga mereka optimistis kehadiran Andalas benar-benar dapat mendukung program penangkaran dan penyelamatan satwa langka dilindungi di dunia yang terancam punah itu.
Andalas diharapkan menjadi pejantan baru bagi badak betina di SRS TNWK (tiga ekor badak betina penghuni SRS, Bina, Ratu, dan Rosa), menyusul kemampuan membuahi satu-satunya badak jantan di sana, Torgamba, ternyata kurang bagus. (Ant/OL-06)

www.media-indonesia.com   

Welcome Home, Andalas
Badak jantan ini akan dikawinkan dengan tiga badak betina hasil penangkaran. Kabar pulangnya Badak Sumatra ke kampung halamannya dari kebun binatang di Cincinnati Amerika Serikat adalah kabar gembira mengingat banyak sekali binatang langka di Indonesia yang hampir punah. Badak Sumatra hanya salah satu di antaranya. Hewan yang terkenal pemalu ini terancam punah di bumi menyusul perburuan besar-besaran dan juga pembalakan hutan selama 25 tahun terakhir.
Badak Kerbau atau juga dikenali sebagai Badak Sumbu Sumatra atau Sumatran Rhinoceros ialah spesies badak yang terkecil di dunia serta merupakan salah satu hewan yang dilindungi. Hewan jenis ini terdapat di kaki gunung Himalaya hingga ke Myanmar, Thailand, Indonesia, dan Malaysia. Para ilmuwan memperkirakan bahwa jenis ini mungkin merupakan nenek moyang semua jenis badak lain di dunia.
Badak Sumatra atau biasa juga disebut Badak Kerbau adalah hewan mamalia yang biasanya hidup sendirian dalam habitat yang lembab dan teduh. Hewan herbivora ini memakan pucuk dan daun-daun muda tertentu. Badak ini sering berkubang untuk menyejukkan badan, menghindarkan diri dari penyakit. Namun jika badak kerbau ini terlalu lama di bawah cahaya matahari, kulitnya akan menipis dan matanya akan rusak.
Hewan ini memiliki beberapa ciri yakni kulitnya berwarna coklat kemerahan di antaranya tertutup rambut panjang (jarang hingga kadang cukup lebat). Selain itu, terdapat kisut di sekitar mata. Panjang cula depan biasanya 25-80 cm, sementara cula belakang biasanya cukup kecil biasanya sekitar 10 cm.
Pada masa bayi, badak mempunyai rambut penutup yang lebat yang berubah warnanya menjadi coklat kemerahan sewaktu memasuki usia muda dan menjadi jarang. Memasuki usia tua, rambut menjadi kaku dan warnanya hampir hitam. Panjang tubuh badak biasanya antara dua hingga dua setengah meter dan biasanya tingginya antara 1 hingga 1,5 m. Berat seekor badak Sumatera dewasa antara 530 kilogram hingga 750 kilogram.
Ketinggian bahunya yakni 1,2 meter. Kulit hewan yang bernama ilmiah Dicerorhinus Sumatrensis ini kasar, tebal, berlipat-lipat dan berwarna kekelabuan. Ketebalan kulitnya antara 5 milimeter hingga 14 milimeter.
Berbeda dengan badak Jawa, hewan mamalia ini memiliki dua cula. Salah satu culanya sangat kecil sehingga hampir tidak terlihat. Badak ini hanya memiliki satu lipatan kulit, berbeda dengan badak Jawa yang mempunyai tiga lipatan kulit. Biasanya, tanduk badak dan kulitnya menjadi sasaran perburuan.
Tanduk badak bisa dijadikan obat tradisional untuk mengurangi demam, menyusutkan tumor dan menyembuhkan patah atau retak tulang. Menurut praktisi obat tradisional Cina, sebenarnya tanduk rusa atau tanduk kerbau akan lebih efektif.
Badak kerbau sudah dinyatakan sebagai hewan paling terancam punah bersama 12 hewan lainnya oleh International Conservation of Nature and Natural Resources. Selain itu, dalam The Asian Rhino Specialist Group Conference 1987, subspesies Harrisoni (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) yang hanya terdapat di Borneo dinyatakan sebagai sub spesies paling terancam. Pasalnya hanya terdapat 30 hingga 50 ekor badak sub spesies di pantai timur Sabah.
Di Taman Nasional Kerinci Seblat, populasi badak diperkirakan mencapai 300 ekor pada 1970-an dan pada awal 1990-an hanya tersisa beberapa ekor saja.
Sekarang badak dilindungi oleh jagawana khusus yang melakukan patroli terus menerus. Namun untuk mengembalikan populasinya diperlukan waktu beberapa abad.
Menurut Direktur Taman Safari Indonesia, Tony Sumampau, populasi Badak Sumatra di alam secara pasti belum diketahui. Karena hingga kini belum ada penelitian. Pada 1990 an populasinya mencapai 200 ekor tersebar di Sumatra. Pada 1980-1984, sejumlah badak ditangkap untuk dikembangbiakkan di tempat konservasi.
Hewan ini, kata Tony, sangat pemalu.
Karena itu, jarang orang yang bisa bertemu langsung dengannya. Badak Sumatra bisa dilihat dari jejak kakinya. ”Tahun kemarin saya ke Taman Nasional Bukit Barisan. Di sana masih ada jejak kaki Badak Sumatera, itu berarti masih ada populasinya,” cetus dia. Namun dengan rusaknya hutan dan kejadian lainnya, populasinya akan berkurang. Yang bisa diketahui sekarang adalah populasinya di penangkaran. Datangnya Badak Sumatera dari Amerika akan mengawini tiga betina di penangkaran dan direncanakan akan disambut di Jakarta, Bogor dan Lampung.
Tak berlebihan rasanya jika kedatangan Andalas disambut suka cita.
Tiga badak betina di hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung Timur telah menunggu calon pejantan ini kembali dari Amerika agar bisa menghasilkan keturunan binatang yang hampir punah itu.
Andalas akan tiba Selasa dari Los Angeles AS. Setelah diserah terimakan kepada Menteri Kehutanan MS Kaban dari pengelola kebun binatang LA Zoo, badak bercula dua itu akan dibawa melalui jalan darat menuju Lampung dengan menyeberangi Selat Sunda.
Setelah melalui proses adaptasi dan pengecekan kondisi kesehatannya di TNWK, ‘Andalas’ akan ditempatkan pada kandang alami Suaka Rhino Sumatera (SRS/Sumatera Rhino Sanctuary) seluas 100-an ha di dalam hutan TNWK di Lampung Timur itu.
Di situ telah menunggu tiga badak betina yang bernama Rosa, Bina, dan Ratu. Sebetulnya ada juga satu badak jantan tapi dinilai telah cukup tua usianya.
Menurut Site Manager SRS TNWK, Drh Marcellus Adi CTR, kedatangan ‘Andalas’ merupakan bagian program global penyelamatan spesies badak Sumatera yang didukung sejumlah lembaga internasional. ”Jadi status badak `Andalas` itu adalah dikembalikan menjadi milik Indonesia, tapi tetap dalam bagian “Global Management Propagation Program“, antara lain disponsori International Rhino Foundation (IRF) dan Yayasan Mitra Rhino (YMR) di Indonesia,” ujar Marcellus lagi. Antara.

www.republika.co.id

Welcome Andalas!
Jum’at, 23 Pebruari 2007 | 00:55 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:“Andalas baru saja menempuh perjalanan yang sangat membosankan dan melelahkan. Sekarang ia sedang istirahat total,” kata Marcellus Adi CTR, manajer di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas, kemarin.
Andalas adalah seekor badak jantan muda dan sejatinya gagah berbobot sekitar 680 kilogram. Lahir dari pasangan induknya asli Sumatera lima tahun lalu di Kebun Binatang Cincinnati, Andalas kembali lagi ke Indonesia dalam sebuah sangkar besi sempit.
Andalas mengusung misi mulia, membantu upaya pemulihan populasi jenisnya di tanah leluhurnya. “Andalas bukan hanya milik Amerika atau Indonesia, tapi dunia,” begitu kata Susie Ellis, Direktur Eksekutif International Rhino Foundation yang mensponsori pemindahan Andalas.
Andalas adalah bayi badak pertama yang sukses lahir di luar habitat liarnya sepanjang 112 tahun terakhir. Orang tuanya, Ipuh dan Emi, adalah dua dari empat ekor badak yang berhasil bertahan hidup dari program penangkapan Departemen Kehutanan bekerja sama dengan Sumatran Rhino Trust 1980-1994 lalu.
Saat itu terkumpul belasan badak sumatra liar yang sejatinya akan dikembangbiakkan secara ex-situ demi mengangkat statusnya agar tidak lagi paling langka diantara keluarga badak. Sayang, beberapa ekor langsung terbukti tidak bisa hidup di luar habitat aslinya, dan kini hanya tersisa Ipuh dan Emi (keduanya di Cincinnati), Torgamba (berusia sekitar 26 tahun, sempat di Inggris tapi sudah berada di Way Kambas), dan Bina (20-an tahun, sempat di Taman Safari Indonesia, sudah di Way Kambas).
Saat ini, selain Torgamba yang sudah tergolong uzur dan Bina yang sepantaran induk Andalas di Amerika, SRS Way Kambas juga mengoleksi dua badak betina belia liar. Keduanya, Ratu dan Rosa, dipersiapkan menjadi lawan ‘main’ Andalas.
Andalas diharapkan sama tangguhnya sebagai pejantan seperti bapaknya di Amerika. Berbeda dengan Torgamba di Lampung, Ipuh memiliki kualitas sperma yang lebih bagus. Kalau Torgamba tak kunjung berhasil membuat Bina bunting sejak 10 tahun lalu, Emi—ibu Andalas—total telah menjalani proses persalinan tiga kali: anak pertama keguguran, sedang adik Andalas, diberi nama Suci, berusia dua tahun. Bahkan, Maret nanti, kalau semuanya lancar, Andalas bakal punya adik lagi.
Andalas sendiri menurut Marcellus mengungkapkan, sudah cukup matang, ditandai dengan sudah mengalami ereksi penuh. “Enam bulan lagi ia akan siap bercumbu,” katanya. Dua dokter hewan dari Kebun Binatang Los Angeles yang selama ini merawat Andalas sejak Suci lahir akan ikut menemaninya selama sebulan ke depan.
Sambil menunggu, Marcellus dan kawan-kawannya di SRS Way Kambas akan memulihkan kondisi Andalas. Secara perlahan mereka juga akan memperkenalkan habitat liar. “Selama ini kan Andalas tidak mengenal lalat kebo (penghisap darah ternak), berbagai jenis kutu, atau parasit lainnya,” katanya.
Pada akhirnya, Marcellus mengajak menunggu sampai tahun depan untuk membuktikan kejantanan Andalas. “Apakah perkawinan benar-benar akan terjadi atau siapakah yang bunting duluan, Rosa atau Ratu,” kata dokter hewan itu. (wuragil)

www.tempointeraktif.com

BADAK SUMATRA KELAHIRAN AMERIKA TIBA TANAH KELAHIRAN NEKEK MOYANGNYA, SUMATERA
Rabu,2007-02-21, 10:58:52 WIB – Lampung, Cakrabuananews.com – Badak Sumatrera pertama yang lahir di kebun binatang Amerika dalam lebih dari seratus tahun ini telah tiba di tanah tumpah darahnya nenek moyangnya di Sumatera untuk ikut dalam program penangkaran mancanegara.
Badak jantan muda yang diberi nama “Andalas” kelahiran Amerika itu tiba di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, Rabu (21/2) lewat tengah malam, setelah tiba dari Bandara Soekarno Hatta, dan diseberangkan menggunakan kapal Fery.
Selanjutnya akan dibawa ke taman nasional Way kambas (TNWK) lampung untuk dikawinkan dengan dua badak beteina lainnya yang telah menanti kedatangannya.
Andalas tiba di TNWK, Rabu pagi, untuk mendapatkan tempat hidup barunya di Suaka Rhino Sumatera (SRS) TNWK sebagai kandang alami seluas sekitar 100 ha, dari luas areal hutan itu secara keseluruhan yang mencapai 130.000-an ha.
Diharapkan program pembiakan ini dapat kiranya ikut menyelamatkan keberadaan badak dari kepunahan.
Dewasa ini terdapat 300 ekor badak Sumatera yang cirri-ciri khasnya adalah berbulu dan ukuran tubuh yang kecil yang masih hidup liar di Sumatera. Badak Sumatera adalah salah satu jis binatang yang paling terancam kepunahan.

www.Cakrabuananews.com  

 Ahli Badak Optimis “Andalas” Produktif
Way Kambas, 22 Pebruari 2007 15:36
Ahli badak dunia, Nico Van Strien, Koordinator International Rhino Foundation di Asia, yang ikut mengantar kepulangan badak “Andalas” dari kebun binatang Los Angeles, AS, ke Suaka Rhino Sumatera (SRS) di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), optimis badak jantan muda itu produktif.
“Ya, saya optimis Andalas itu akan sehat dan produktif, sehingga bisa segera membuahi dan membuat hamil beberapa badak betina di SRS TNWK ini,” kata Nico di Way Kambas-Lampung Timur–ratusan km dari Bandarlampung–usai menyaksikan masuknya Andalas ke dalam kandang sementara di SRS TNWK di Way Kambas, Rabu (21/2).
Dia menilai, kondisi Andalas yang usianya masih muda (5,5 tahun) itu akan memungkinkan untuk cepat beradaptasi, diperkirakan perlu waktu adaptasi antara 3–6 bulan di tempat hidupnya yang baru.
“Setelah adaptasi itu berjalan, Andalas bisa dilepaskan ke kandang besar di sini,” kata Nico pula.
Di SRS TNWK seluas 100-an ha yang di sekelilingnya dipagari dengan kawat dan setrum listrik–dari areal pencadangan untuk penangkaran badak 1.000 ha (total areal TNWK sekitar 130.000 ha) –masing-masing badak di sana memiliki kandang besar alami 10–20 ha.
Pada saat tertentu badak jantan dan betina akan dipertemukan ketika masa kawin.
Badak di SRS TNWK saat ini sebanyak lima ekor, selain Andalas, badak terdahulu di sana adalah Torgamba (badak jantan) dengan tiga badak betina (Ratu, Rosa, dan Bina). Namun Torgamba kurang produktif dan belum berhasil membuahi badak-badak betina di sana, kendati telah terjadi puluhan kali perkawinan tapi tidak terjadi pembuahan. Menurut Nico Van Strien, setelah melalui masa adaptasi dan dilepas ke kandang alami besar, Andalas akan segera dikenalkan dengan badak betina di sana.
“Saya optimis, kalau semuanya berjalan lancar, dalam waktu sekitar dua tahun saja sudah ada satu atau dua ekor badak betina di SRS ini yang hamil karena dibuahi Andalas,” kata Nico.
Dia berpendapat, badak yang layak hidup di SRS tersebut maksimal sekitar 10 ekor.
Kalau populasi telah lebih 10 ekor, perlu dibuatkan fasilitas kandang alami serupa SRS itu di tempat lain di hutan di Sumatera yang bukan di TNWK.
Nico menyatakan pula, setelah jumlah populasi badak hasil penangkaran mencapai 20-an ekor yang juga telah dinilai stabil dan aman, dapat diprogramkan pengembalian badak-badak itu ke habitat aslinya yang dianggap masih aman.
“Jadi badak-badak hasil penangkaran itu akan dilepas lagi ke alamnya, sehingga tidak ada lagi penangkapan badak liar untuk pembiakannya,” ujar Nico.
Penangkapan badak liar dari alam, lanjut Nico, masih diperlukan hanya untuk pemurnian genetik dan peningkatan genetik viability.
“Saya yakin Andalas ini produktif dan tidak bermasalah sehingga dapat segera membuahi, paling sedikit bisa menghasilkan sepuluhan ekor anak badak sumatera,” ujar Nico. Keyakinan itu, menurut dia, setelah mengetahui hasil pengecekan kadar hormon testoteron Andalas yang cukup tinggi.
Pemulangan badak Andalas yang menghabiskan biaya ratusan juta rupiah itu, dilakukan diantaranya untuk mengatasi kesulitan badak jantan Torgamba di SRS TNWK yang hingga kini belum berhasil membuahi dan menghamili badak betina di sana. Diharapkan kehadiran Andalas akan benar-benar menjadi “pejantan tangguh” bagi para badak betina di SRS TNWK yang dalam saktu tidak lama lagi akan hamil dan bisa melahirkan anak badak sumatera pada habitat aslinya tersebut, untuk pembiakan dan penyelamatan badak di dunia. [TMA, Ant]

GATRA Printed Edition http://www.gatra.com/2007-02-22/versi_cetak.php?id=102401

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: