IMPIAN MELESTARIKAN BADAK SUMATERA

 

Dedi Canpict0335.jpgdra
Indonesia adalah negara yang terletak di daerah tropis dengan keanekaragaman hayati tertinggi di Asia.  Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) merupakan salah satu keanekaragaman hayati tersebut yang merupakan anugerah dari Tuhan yang maha kuasa, yang harus dipertahankan dan dilestarikan keberadaannya dimuka bumi ini.  Ironisnya populasi Badak Sumatera (BS) terancam punah karena tekanan habitat yang besar dan sulitnya satwa ini bereproduksi baik dihabitat alaminya in-situ maupun di ex-situ atau Kebun Binatang (KB).
Pelestarian BS  dalam hal ini perlindungan dan perkembangbiakan pada hakikatnya lebih kepada dorongan hati nurani, semangat dan impian untuk mencegah punahnya satwa ini lebih dari yang lainnya. Langkah konkrit dan nyata secepatnya harus dilaksanakan, kita tidak bisa hanya beretorika tapi kita harus bergerak cepat berpacu dengan waktu untuk mengembangbiakkan BS, karena lambatnya gerak kita akan terus memusnahkan satwa langka bercula dua ini.  Tingkat keberhasilan pemeliharaan BS di KB sangat kecil bahkan sejak ~100 tahun lalu ketika orang mulai memelihara BS baru tiga ekor lahir di Cincinati Zoo Amerika pada tahun 2001  (Andalas), 2004 (Suci) dan 2007 (Harapan). Sementara untuk perkembangan dihabitat alaminya dihutan-hutan Sumatera dan Malaysia sangatlah lambat. Populasinya turun drastis dan sekarang tinggal sekitar 300 ekor bahkan banyak yang percaya populasinya dibawah itu.
Tahun 1985 badak ditangkap di wilayah Sumatera (Riau dan Bengkulu) karena daerahnya yang terdesak dan terancam (Doomed), terisolasi dari habitatnya akibat aktivitas HPH dan konversi hutan. Penangkapan dilakukan atas kerjasama Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan (PHKA) dan mitra KB luar negeri (Howletts and Porl Lympne Foundation dari Inggris dan Sumatran Rhino Trash dari Amerika), maka ditangkaplah 18 ekor BS dan disebar ke KB di Indonesia dan mancanegara (AS, Inggris dan Malaysia), sampai akhir 1993 mati 13 ekor karena kegagalan pemeliharaan terutama gangguan pencernaan. Untuk menyelamatkan badak yang tersisa maka dibuatlah suatu tempat yang lebih kondusif untuk  bertahan hidup pada tahun 1998, yaitu di Suaka Rhino Sumatera atau Sumatran Rhino Sanctuary  (SRS), kenapa di sebut Sanctuary atau suaka? Karena tujuan awalnya adalah menyelamatkan badak-badak dari kematian di KB, setelah dianggap dapat bertahan hidup, maka reproduksi menjadi prioritas selanjutnya. Konsep Sanctuary yang dikembangkan SRS memperhatikan 5 aspek kebebasan satwa, yaitu :

1.        badak bebas makan dan minum : sumber pakan dan air tersedia sepanjang tahun

2.       mempunyai lingkungan yang sesuai : habitat  sekitar 100 ha dikelilingi pagar listrik  dengan hutan alami yang masih utuh, tenang dan bebas gangguan

3.       mendapat perawatan kesehatan : selalu dimonitor oleh keepers dan dokter hewan

4.       kesempatan untuk mengekspresikan perilaku alami : browse, salt lick, marking area, kawin, berkubang, dll.

5.       perlindungan dari rasa takut dan stres : mengurangi perjumpaan dengan manusia tetapi tetap dalam pengawasan yang intensif.

SRS merupakan hasil kerja sama antara Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) sekarang PHKA (Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam), Departemen Kehutanan, Yayasan Mitra Rhino (YMR), International Rhino Foundation (IRF), dan Taman Safari Indonesia. Seiring dengan perjalanan waktu SRS dengan Rhino Protection Unit (RPU) melebur menjadi satu Yayasan baru yaitu Yayasan Badak Indonesia (Yabi) atau Indonesian Rhino Foundation pada 12 Januari 2008, yang selanjutnya menjadi SRS-Yabi dan RPU-Yabi
SRS merupakan penangkaran BS semi in-situ dihabitat aslinya, berada ditengah rimba Taman Nasional Way Kambas Lampung Timur, berjarak ~8 km dari pintu gerbang Plang Ijo,  disinilah kami bekerja siang malam ditengah kesunyian, jauh dari keramain dan  keluarga, disinilah kami memelihara 5 ekor BS, yaitu si jantan “Torgamba” dari Porl Lympne Inggris dan “Andalas” dari Amerika. Si betina “Bina” dari Taman Safari Indonesia, Rosa dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Ratu warga asli Taman Nasional Way Kambas. 
Ganasnya rimba Way kambas, derasnya hujan, terik mentari, diselingi intaian cobra dan hadangan beruang liar tak membuat kami gentar dan surut dalam memonitor perkembangan kelima badak sepanjang hari, karena kami yakin apabila badak-badak ini berhasil berkembangbiak maka masa depan BS akan cerah kembali, kami tidak ingin anak cucu kita hanya mendengar dongeng tentang badak tanpa pernah mereka melihatnya.  Kejenuhan seringkali datang melanda, tapi demi sebuah tekat dan impian yang besar untuk melestarikan kehidupan BS semua halangan dan rintangan berusaha kami atasi.  Dengan usaha dan kerja keras, Kami yakin bisa mengembangbiakkan satwa super langka itu.
Mengembangbiakkan BS sangat sulit dan lambat tidak seperti satwa liar lainnya, situasi bertambah sulit dengan terbatasnya BS yang dikelola manusia, hal ini menjadi dilema bagi dokter hewan dalam mengambil sebuah tindakan, perlu kecermatan, ketepatan dan kehati-hatian. Disatu sisi harus lebih banyak bersama si badak dan di sisi lainnya badak ini harus lebih diliarkan, karena semakin mereka liar maka proses perkawinannya akan semakin bagus. Badak berambut ini bukan hanya milik Indonesia tapi juga milik dunia sehingga upaya pelestariannya menjadi tanggung jawab kita semua.  BS disebut spesies kunci (key species) dalam konservasi keanekaragaman hayati karena sifatnya yang browser menyusuri semak belukar mencari makan setiap hari, berperan dalam penyebaran/regenerasi pohon dari biji tumbuhan yang menempel ditubuhnya yang diselimuti lumpur sehabis berkubang.  BS memerlukan habitat yang luas dan utuh, maka usaha perlindungan badak merupakan usaha perlindungan terhadap hidupan liar lainnya, juga melindungi berbagai jenis habitat mulai dari kawasan pantai sampai ke pegunungan tinggi. Satwa badak mempunyai peranan yang sangat penting bagi berputarnya roda kehidupan di habitatnya yang sangat luas, melibatkan berbagai hubungan ketergantungan terutama jenis tumbuhan pakan.
Kendala awal yang ada di SRS yang dialami Bina dan Torgamba:

  • Badak betina lebih tinggi dan agresif dari jantan dan juga tidak punya ekor (dipotong karena infeksi) sehingga jantan tidak punya orientasi ketika kawin.
  • Awal datang ke SRS jantan tidak punya pengalaman kawin karena terlalu muda waktu ditangkap.
  • Sulitnya mendeteksi masa birahi, karena kalau tidak tepat badak tidak mau kawin dan bisa berkelahi bahkan menyerang siapa saja.
  • Bina mengalami penebalan selaput dara (hymen) dan Torgamba tidak mempunyai spermatozoa yang mencukupi (sedang diterapi).
  • Sulit untuk meliarkan kembali kedua badak karena sudah terlalu lama berada di KB dan kurangnya catatan data badak sewaktu di KB.

Dengan kondisi yang serba sulit, awalnya impian untuk mengembangbiakkan BS di SRS seperti tidak akan berhasil, banyak pihak yang pesimis, sampai tahun 2002, selama 4 tahun berbagai upaya dilakukan tapi belum menunjukkan hasil yang memuaskan, Torgamba belum berhasil kawin secara sempurna.  Kondisi kesehatan kedua badak sangat baik karena selalu dimonitor oleh Dokter Hewan.  Petugas berusaha mengamati perilaku (behavior) reproduksi badak secermat dan seteliti mungkin selama 24 jam agar perkawinannya berhasil.  Perubahan perilaku diarahkan sealami mungkin dengan mengkombinasikan dengan pengetahuan yang dimiliki.  Pada 25 Februari 2002 badak jantan Torgamba berhasil kawin dengan sempurna untuk pertama kalinya.  Proses perkawinannnya hampir selalu dibantu terutama saat penetrasi, hal ini karena hambatan alami dimana jantan lebih pendek dari betina dan betina tidak punya ekor sehingga sulit buat sijantan untuk orientasi penetrasi. Secercah harapan timbul, lelah terasa hilang, bayangan akan punya bayi BS pertama akan menjadi kenyataan.  Setelah dilakukan pemeriksaan yang intensif dengan manual dan medis (Ultrasound) ternyata badak betina Bina belum bunting. Datangnya badak-badak muda pada periode 2005-2007 seperti Ratu, Rosa dan terakhir Andalas ke SRS menambah optimisnya masa depan perbadakan Indonesia. Hal ini bukan berarti hambatan pergi menjauh karena badak-badak muda ini masih butuh pembelajaran untuk pengalaman reproduksi sambil menunggu masa matang secara sexual. Andalas pun masih perlu banyak belajar tentang hidup dan kehidupan. Tapi kami yakin dengan usaha, kerja keras dan semangat pantang menyerah impian akan jadi kenyataan. Untuk mendukung keberhasilan di SRS berbagai macam dan bentuk penelitian dilakukan antara lain tentang perilaku, makanan, hormonal, zat gizi, habitat, reproduksi, dll. Dalam melakukan penelitian ini, SRS bekerja sama dengan berbagai lembaga penelitian baik dari Universitas dalam negeri seperti UNILA dan IPB maupun luar negeri. SRS juga memberikan kesempatan magang dan belajar bagi mahasiswa, pelajar, pramuka ataupun LSM yang tertarik dengan badak. Hingga penghujung 2007 telah berpuluh kali keberhasil perkawinan yang sempurna tapi kebuntingan belum terjadi, mungkin sebentar lagi.  Hari demi hari, minggu berganti minggu dan bulan terus berlalu tanpa kenal lelah kami masih disini di hutan ini, meneliti kehidupan badak paling terancam didunia (critical endangered), entah kapan impian itu akan jadi kenyataan sementara dihabitat alaminya di belantara Sumatera ancaman kepunahan terus terjadi. Impiannya dan harapan itu selalu ada yang penting kita harus selalu berusaha, berusaha dan berusaha………….
(Apabila ada yang peduli dan ingin memberi donasi kepada pelestarian Badak Sumatra silahkan menghubungi www.Dephut.go.id,  www.badak.or.id atau www.rhinos-irf.org)

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: