Cairina si Mentok Rimba

Mentok rimba adalah sejenis unggas dari keluarga bebek (Kingdom: Animalia-Chordata-Aves- Anseriformes-Anatidimage1009.jpgae-Cairina-C.scutulata). Termasuk salah satu unggas air yang paling langka dan terancam punah saat ini, bebek liar ini juga dikenal dengan beberapa nama seperti: bebek hutan, mentok hutan atau angsa hutan. Nama ilmiahnya adalah Cairina scutulata (Muller, 1842), di Way Kambas lebih terkenal dengan sebutan Cairina dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai White Winged Wood Duck.
Bentuknya sangat
mirip dengan mentok peliharaan (Cairina moschata), Cairina memiliki panjang tubuh dari paruh hingga ke ujung ekor ~75 cm.
Tubuh umumnya berwarna gelap atau kehitaman, dengan sisi bawah sayap berwarna putih (terlihat ketika terbang). Kepala dan leher putih, terkadang dengan bintik-bintik kehitaman. Paruh dan kaki kekuningan atau jingga kusam. Tidak seperti mentok peliharaan, tak ada lingkaran merah di sekeliling mata.

Cairina menghuni hutan berawa yang dangkal dan tidak terlalu rapat vegetasinya. Cairina adalah satwa omnivora, dimana memangsa aneka macam makanan termasuk tumbuhan air, keong/siput, ikan-ikan kecil, cacing, serangga dan laba-laba air.
Suaranya nyaring seperti angsa dan terbilang langka keberadaannya di alam. ”Mentok rimba terancam punah. Kalau bisa ketemu dihutan, kita ter
masuk yang sangat beruntung dan akan merasa puas” kata Apriawan dan Dedi – petugas dan guide TNWK sekaligus pengamat/peneliti burung di Way Kambas.
Beberapa tempat menjadi favorit Cairina seperti Rawa Gajah dan ulung-ulung di resort Way Kanan. Apabila beruntung kita bisa melihat Cairina terbang rendah berpasangan disekitar daerah tersebut. Di Way Kambas, diperkirakan jumlahnya tinggal sekita
r 30 ekor. Menurut Apriawan awal perjumpaannya dengan Cairina pada tahun 1984 di camp D2 tapi waktu itu belum kenal dan pada 1986, bertemu lagi di Rawa Gajah. ”Waktu itu, saya lagi mengantar peneliti Inggris.
Lain lagi cerita Dedi. Dia pernah berjumpa Cairina sangat banyak, sekitar 28 ekor dalam waktu bersamaan di Ulung-ulung, kalau tidak s
alah tahun 2001 lanjut Dedi sambil mengingat-ingat. Sama seperti rekannya tadi, Dedi juga mempunyai pengalaman yang cukup banyak tentang satwa ini apalagi ia cukup lama menemani Nancy Drilling – peneliti asal Amerika Serikat (Universitas Minessota) didaerah Way Kanan. Apriawan dan Dedi sampai saat ini sering memandu wisatawan atau peneliti yang ingin melihat keberadaan Cairina. (Dedi Candra, warta konservasi edisi IV December 2006)

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: