Badak Yang Malang

Dedi Candra
Tejo be
ngotejo1.jpgng dan bingung….. disuatu hari yang panas ia duduk termangu melihat suasana hutan sunyi senyap, tetapi nun dikejauhan terdengar raungan buldozer dan gergaji mesin “chainsaw” yang menderu-deru. Beberapa pohon didengarnya tumbang lagi hari ini. Kondisi inilah yang membuat ia merasa was-was dan tidak tenang. Oh ya tejo adalah seekor babi hutan jantan yang gemuk.

Hari itu matahari bersinar terik, tetapi dilantai hutan suasana tetap sejuk terasa. Cahaya terang menembus kanopi hutan. Akhirnya iapun memutuskan untuk berjalan perlahan-lahan.
Ketika seda
ng menyusuri jalan setapak yang dipenuhi semak, Tejo menemukan sebuah pohon besar yang bertulisan, entah siapa yang menulisnya. Pada pohon yang berlumut itu juga ada gambar walaupun tidak terlalu jelas mungkin sudah lama dibuatnya. Tejo menulai membaca tulisannya :
“Cobalah anda perhatikan sketsa Badak ini, wajahnya memelas, mata sayu penuh harap agar manusia memberikan perlindungan dan pertolonganya. Tidak sesangar wajah seperti cerita dongeng tetua kita dulu. Sebenarnya badak ini kini terus dirundung risau. Sebabnya, manusia terus menebangi hutan alam tempat tinggalnya. Negeri kita nan kaya ini mempunyai dua jenis badak, yaitu badak Sumatera (dicerorhinus sumatrensis) dan badak Jawa (Rhinoceros sondaicus). Kedua jenis badak ini dinyatakan sudah hampir punah (critical endangered).
Apa artiny
a? ya, dua jenis tersebut ibarat saudara kandung, hanya tempat tinggal yang membedakan mereka, Badak Sumatera hidup dibelantara sumatera (semenanjung malaysia dan sabah) dan Badak Jawa di ujung kulon pulau Jawa. Dahulunya sih penyebaran badak cukup merata tetapi sekarang mereka sudah terkotak-kotak oleh perubahan zaman. Dua jenis inipun bentuk tubuhnya berbeda, tercatat badak jawa badannya lebih besar dan bercula satu sedangkan badak sumatera bercula dua lebih ramping dan bobot badan juga kecil dibandingkan dengan saudaranya itu, bahkan dibandingkan badak afrika dan india, ia juga paling kecil. Di Malaysia bahkan disebut badak kerbau atau badak sumbu.
Siapapun yang membaca tulisan dipohon ini dan merasa tidak puas, datanglah untuk bertanya secara langsung ketempat saya. Oh ya tempa
t saya sekitar 30 menit kearah utara dekat sungai kecil…
Si Tejo penasaran juga rupanya, ditelusurinya jalan setapak kearah yang disebut tadi. Nah ini dia tempatnya guman tejo setelah sampai disungai kecil, disana ada bangunan yang sudah tua dan terlihat tidak terurus. Tejo mengendap-endap ke dalam sambil memanggil-manggil ada siapa didalam… berulang-ulang.
Silahkan masuk!,
terdengar sahutan serak dari dalam. Setelah masuk dan mengutarakan maksudnya atas ditemukannya pohon yang bertulisan tadi. Kemudian penghuni tempat tersebut, yang ternyata pak tua, memulai ceritanya :
“Saya akan melanjutkan tulisan yang kau temukan, “ katanya, “ begini Tejo, badak itu sekarang benar-benar khawatir dengan kerajaannya yang hampir musnah. Manusia memang membuat peraturan dan u
ndang-undang, tetapi tidak ada yang dijalankannya. Undang-undang lingkungan telah dibuat dengan baik, tetapi penerapannya dilapangan berkata lain. Nyatanya mereka menebangi hutan seenak perutnya, apalagi diera seperti sekarang ini, antara rakyat jelata dan pengusaha berebut menggunakan kesempatan. Penegakan undang-undang masih lemah. Sebenarnya konsesi untuk ekosistem para hidupan liar dan hewan sudah mereka tentukan sendiri dengan adanya penetapan batas suaka alam, Taman Nasional, hutan lindung dan sebagainya. Kalau pada zaman khalifah dulu namanya Hima’, yaitu lahan yang sama sekali tidak boleh digarap, dibiarkan tumbuh alamiah untuk pelestarian mahkluk-mahkluk Allah dihutan”. Tambah pak tua panjang lebar.
Mendengar hal tersebut, Tejo menimpali, “ Begitu saja kok repot-repot. Melestarikan badak gunanya apa? Bukankah mereka selama ini tidak bermanfaat bagi kehidupan hutan?

“Nah, begini jo (wah tambah akrab rupanya Tejo di panggil Jo aja), badak itu sebagai spesies kunci atau spesies payung dalam ekosistem hutan”. Apaan tuh maksudnya pak tua? Berat amat kosakatanya kata tejo sambil nyengir, badak memerlukan tempat hidup berupa hutan alami yang utuh, butuh sumber pakan yang kaya variasi jenisnya, mereka juga sangat suka melumuri tubuhnya dengan lumpur basah dan berjalan sangat jauh menjelajah belantara, tubuh berlumpur sangat sering membawa biji dari tumbuhan yang dimakannya dan ini akan terbawa jauh, belum lagi biji dari kotorannya akan menyebarkan tumbuhan baru. Dengan kata lain kalau badak dapat hidup nyaman berarti hutan itu utuh dan terjaga.

“Oh, begitu”, kata Tejo manggut-manggut. “ Kalau demikian memang Tuhan itu maha adil, ya? Diciptakan-nya Alam ini dengan seimbang agar manusia juga diuntungkan”, Tejo mencoba menganalisa (kayak pengamat aja).
“Itulah, kenapa saya menulis dipohon itu agar siapapun yang peduli terhadap species hewan ini dapat membantu melestarikannya sehingga mereka dapat terus hidup beserta umat manusia berdampingan secara damai. “ Emangnya, jumlah populasi badak hari ini sisa berapa, sih? kata Tejo polos….

Disadur dari majalah Al Zaitun

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: