Membantu Badak kawin ditemani Ular besar

Posted in Kisah on March 2, 2008 by Dedi Candra

Aku dapat tugas mengikuti penggabungan badak pada periode ini, malam ini aku ditemani Yuhadi dan mas Dedi, dokter hewan di Sumatran Rhino Sanctuary (SRS). Suasana malam ini memang agak dingin dari biasanya maklum dari siang sampai sore hujan mengguyur kawasan SRS dengan lebatnya. Nyanyian jangkrik dan desingan sayap serangga malam menemani setiap detik waktu yang kami lalui. Malam ini adalah untuk kesekian kalinya penggabugan badak Sumatera di SRS, semoga kali ini badaknya mau kawin dan cepat dapat anak.
Berada satu lokasi dengan dua ekor badak yang sedang melakukan ritual perkawinan bukanlah hal yang mudah, ancaman diseruduk selalu menghantui, maklum awal-awal waktu percumbuan kedua badak biasanya sangat agresif dan sensitif, sudah beberapa kali keepers dikejar badak waktu mengikutinya. Nggiikkk…. Terdengar ringkikan Bina ketika dikejar Torgamba, sejurus kemudian terjadi kepanikan, kami berusaha menghindar agar tidak tertabrak badak yang sedang kejar-kejaran ditengah gelapnya malam, entah ada yang menuntun atau tidak, kami yang tadinya berserakan sama-sama menuju kesatu batang pohon ara yang besar dan berdiri gagah ditengah lokasi penggabungan. Karena banyak akarnya maka kami mendapatkan tempat berpijak dan perpegangan dengan nyaman. Tiba-tiba Yuhadi yang berdiri paling depan melompat cepat padahal dengan badan yang sedikit gemuk agak sulit harusnya dia melompat secepat itu batinku… 5 meter didepan Yuhadi baru bersuara ulo…ulo… katanya berulang-ulang, aku lihat mas Dedi diam terpaku kebingungan maklum ular sanca besar sebesar paha orang dewasa tepat berada dibawahnya, sementara kakiku menginjak ekor satwa melata itu.
Kami bertiga panik dan terkejut. Senter kepala aku arahkan kebawah, benar adanya seekor sanca besar sedang menunggu mangsa sangat jelas terlihat, untung bukan kami yang jadi sasaranya. Dengan gerak perlahan dan hati-hati kami menjauh dari sang ular, baru beberapa langkah menghindar muncul sigembul Torgamba diikuti sicentil Bina dan mereka siap dengan posisi kawin, alamak… kacau ini guman ku… kalau badak kawin sementara ada ular besar disampingnya, tentu akan membahayakan badak dan kami. Satu permasalahan fisik yang dialami Torgamba bahwa dia lebih pendek dari Bina dan Bina tidak mempunyai ekor, sehingga perlu bantuan untuk mengarahkan perkawinannya. Sambil membantu badak kawin dan mata kami tak lepas melirik keberadaaan sang ular disamping sana. Terima kasih ya Allah kata kami, dengan bantuan dan kuasamu telah kau jinakkan seekor ular python besar itu sehingga tidak mencelakai kami, sang ular juga sangat bersahabat tak ada tanda-tanda dia akan menyerang dan kembali ketempat pengintaiannya sampai pagi menjelang. Alam memang bukan untuk ditaklukkan, kita harus bersahabat dengannya sehingga keserasian hidup akan tercapai………..

(Kisah Nyata yang dialami Dedi, Sunar dan Yuhadi – Warta konservasi edisi IV December 2006)

Cairina si Mentok Rimba

Posted in Flona on March 1, 2008 by Dedi Candra

Mentok rimba adalah sejenis unggas dari keluarga bebek (Kingdom: Animalia-Chordata-Aves- Anseriformes-Anatidimage1009.jpgae-Cairina-C.scutulata). Termasuk salah satu unggas air yang paling langka dan terancam punah saat ini, bebek liar ini juga dikenal dengan beberapa nama seperti: bebek hutan, mentok hutan atau angsa hutan. Nama ilmiahnya adalah Cairina scutulata (Muller, 1842), di Way Kambas lebih terkenal dengan sebutan Cairina dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai White Winged Wood Duck.
Bentuknya sangat
mirip dengan mentok peliharaan (Cairina moschata), Cairina memiliki panjang tubuh dari paruh hingga ke ujung ekor ~75 cm.
Tubuh umumnya berwarna gelap atau kehitaman, dengan sisi bawah sayap berwarna putih (terlihat ketika terbang). Kepala dan leher putih, terkadang dengan bintik-bintik kehitaman. Paruh dan kaki kekuningan atau jingga kusam. Tidak seperti mentok peliharaan, tak ada lingkaran merah di sekeliling mata.

Cairina menghuni hutan berawa yang dangkal dan tidak terlalu rapat vegetasinya. Cairina adalah satwa omnivora, dimana memangsa aneka macam makanan termasuk tumbuhan air, keong/siput, ikan-ikan kecil, cacing, serangga dan laba-laba air.
Suaranya nyaring seperti angsa dan terbilang langka keberadaannya di alam. ”Mentok rimba terancam punah. Kalau bisa ketemu dihutan, kita ter
masuk yang sangat beruntung dan akan merasa puas” kata Apriawan dan Dedi – petugas dan guide TNWK sekaligus pengamat/peneliti burung di Way Kambas.
Beberapa tempat menjadi favorit Cairina seperti Rawa Gajah dan ulung-ulung di resort Way Kanan. Apabila beruntung kita bisa melihat Cairina terbang rendah berpasangan disekitar daerah tersebut. Di Way Kambas, diperkirakan jumlahnya tinggal sekita
r 30 ekor. Menurut Apriawan awal perjumpaannya dengan Cairina pada tahun 1984 di camp D2 tapi waktu itu belum kenal dan pada 1986, bertemu lagi di Rawa Gajah. ”Waktu itu, saya lagi mengantar peneliti Inggris.
Lain lagi cerita Dedi. Dia pernah berjumpa Cairina sangat banyak, sekitar 28 ekor dalam waktu bersamaan di Ulung-ulung, kalau tidak s
alah tahun 2001 lanjut Dedi sambil mengingat-ingat. Sama seperti rekannya tadi, Dedi juga mempunyai pengalaman yang cukup banyak tentang satwa ini apalagi ia cukup lama menemani Nancy Drilling – peneliti asal Amerika Serikat (Universitas Minessota) didaerah Way Kanan. Apriawan dan Dedi sampai saat ini sering memandu wisatawan atau peneliti yang ingin melihat keberadaan Cairina. (Dedi Candra, warta konservasi edisi IV December 2006)

BERTEMU SI RAJA RIMBA

Posted in Kisah on March 1, 2008 by Dedi Candra

Diceritakan oleh Surono
Sore telah lewat dan gimage695.jpgelap mulai datang menjelang suara serangga penghantar malam mulai terdengar. Suatu waktu di bulan Nopember 2004. Surono salah seorang perawat badak di Sumatran Rhino Sanctuary TNWK hendak pulang ke desanya di Plang Ijo untuk libur. Libur bagi karyawan di SRS merupakan hal yang sangat menyenangkan, maklum seminggu lebih mereka berada di tengah hutan jauh dari keramaian dan interaksi dengan manusia lain. Dengan mengendarai motor kesayangannya Surono beranjak meninggalkan lokasi SRS, sekitar 300 meter perjalanan Surono dikejutkan dengan pandangan didepannya. Desiran darah menjalar keseluruh arteri dan menyesakkan dada tapi tak ada rasa ketakutan. 5 meter didepan berdiri gagah seekor Harimau Sumatera jantan dewasa, yang menurut Surono sangatlah besar. Motor berhenti, kedua mahluk yang berbeda ini saling menatap, entah terkejut, takut, bersahabat … tak ada yang tau, tetapi Surono masih saja menatap lurus kedepan. 5 menit berlalu suasana tak berubah bahkan Surono dapat dengan jelas melihat setiap detail tubuh si loreng dan mungkin juga sebaliknya. Wibawa dan karisma yang besar dari sang raja rimba membuat Surono diam dan merasa tak berdaya tapi tetap tak ada rasa takut disana. Senja merambah gelap seiring gerakan sang raja rimba meninggalkan Surono yang masih saja diam terpaku, detik selanjutnya tinggallah Surono di jalan itu dan dengan tenang melanjutkan perjalanan menemui istri dan anak tercinta. Diperjalanan barulah Surono sadar kenapa dia tidak merasa takut? Mungkin dia tahu aku tidak bermaksud jahat kepadanya batin Surono… dan aku memang tidak ada maksud mencelakainya, mungkin juga tuhan melindungiku, entahlah… yang penting aku merasa senang dan takjub bahwa dapat bertemu langsung dengan si raja rimba dalam suasana yang besahabat tanpa konflik. Aku bersyukur menjadi bagian dari segelintir orang yang pernah bertemu dengan Harimau Sumatera dihabitatnya. Dalam hati aku berjanji bukan hanya harimau, tetapi semua satwa liar akan aku jaga dan lindungi menurut cara dan kemampuanku, karena kalau kita bersahabat dengan mereka, mereka juga akan bersahabat. Tuhanku …… kabulkanlah doa hambamu ini…. Selamatkan dan lindungi satwaliar dan habitatnya.. suatu desahan dari seorang yang setia pada pekerjaannya. Sesampai dirumah sang istri bertanya, kenapa kok pucat mas? Rupanya rona wajahku tetap masih terkejut… ahh gak apa-apa jawab Surono sekenanya. Biarlah pengalaman ini tidak diketahui istriku agar dia tidak kawatir nantinya…..DC

Badak Yang Malang

Posted in Kisah on February 29, 2008 by Dedi Candra

Dedi Candra
Tejo be
ngotejo1.jpgng dan bingung….. disuatu hari yang panas ia duduk termangu melihat suasana hutan sunyi senyap, tetapi nun dikejauhan terdengar raungan buldozer dan gergaji mesin “chainsaw” yang menderu-deru. Beberapa pohon didengarnya tumbang lagi hari ini. Kondisi inilah yang membuat ia merasa was-was dan tidak tenang. Oh ya tejo adalah seekor babi hutan jantan yang gemuk.

Hari itu matahari bersinar terik, tetapi dilantai hutan suasana tetap sejuk terasa. Cahaya terang menembus kanopi hutan. Akhirnya iapun memutuskan untuk berjalan perlahan-lahan.
Ketika seda
ng menyusuri jalan setapak yang dipenuhi semak, Tejo menemukan sebuah pohon besar yang bertulisan, entah siapa yang menulisnya. Pada pohon yang berlumut itu juga ada gambar walaupun tidak terlalu jelas mungkin sudah lama dibuatnya. Tejo menulai membaca tulisannya :
“Cobalah anda perhatikan sketsa Badak ini, wajahnya memelas, mata sayu penuh harap agar manusia memberikan perlindungan dan pertolonganya. Tidak sesangar wajah seperti cerita dongeng tetua kita dulu. Sebenarnya badak ini kini terus dirundung risau. Sebabnya, manusia terus menebangi hutan alam tempat tinggalnya. Negeri kita nan kaya ini mempunyai dua jenis badak, yaitu badak Sumatera (dicerorhinus sumatrensis) dan badak Jawa (Rhinoceros sondaicus). Kedua jenis badak ini dinyatakan sudah hampir punah (critical endangered).
Apa artiny
a? ya, dua jenis tersebut ibarat saudara kandung, hanya tempat tinggal yang membedakan mereka, Badak Sumatera hidup dibelantara sumatera (semenanjung malaysia dan sabah) dan Badak Jawa di ujung kulon pulau Jawa. Dahulunya sih penyebaran badak cukup merata tetapi sekarang mereka sudah terkotak-kotak oleh perubahan zaman. Dua jenis inipun bentuk tubuhnya berbeda, tercatat badak jawa badannya lebih besar dan bercula satu sedangkan badak sumatera bercula dua lebih ramping dan bobot badan juga kecil dibandingkan dengan saudaranya itu, bahkan dibandingkan badak afrika dan india, ia juga paling kecil. Di Malaysia bahkan disebut badak kerbau atau badak sumbu.
Siapapun yang membaca tulisan dipohon ini dan merasa tidak puas, datanglah untuk bertanya secara langsung ketempat saya. Oh ya tempa
t saya sekitar 30 menit kearah utara dekat sungai kecil…
Si Tejo penasaran juga rupanya, ditelusurinya jalan setapak kearah yang disebut tadi. Nah ini dia tempatnya guman tejo setelah sampai disungai kecil, disana ada bangunan yang sudah tua dan terlihat tidak terurus. Tejo mengendap-endap ke dalam sambil memanggil-manggil ada siapa didalam… berulang-ulang.
Silahkan masuk!,
terdengar sahutan serak dari dalam. Setelah masuk dan mengutarakan maksudnya atas ditemukannya pohon yang bertulisan tadi. Kemudian penghuni tempat tersebut, yang ternyata pak tua, memulai ceritanya :
“Saya akan melanjutkan tulisan yang kau temukan, “ katanya, “ begini Tejo, badak itu sekarang benar-benar khawatir dengan kerajaannya yang hampir musnah. Manusia memang membuat peraturan dan u
ndang-undang, tetapi tidak ada yang dijalankannya. Undang-undang lingkungan telah dibuat dengan baik, tetapi penerapannya dilapangan berkata lain. Nyatanya mereka menebangi hutan seenak perutnya, apalagi diera seperti sekarang ini, antara rakyat jelata dan pengusaha berebut menggunakan kesempatan. Penegakan undang-undang masih lemah. Sebenarnya konsesi untuk ekosistem para hidupan liar dan hewan sudah mereka tentukan sendiri dengan adanya penetapan batas suaka alam, Taman Nasional, hutan lindung dan sebagainya. Kalau pada zaman khalifah dulu namanya Hima’, yaitu lahan yang sama sekali tidak boleh digarap, dibiarkan tumbuh alamiah untuk pelestarian mahkluk-mahkluk Allah dihutan”. Tambah pak tua panjang lebar.
Mendengar hal tersebut, Tejo menimpali, “ Begitu saja kok repot-repot. Melestarikan badak gunanya apa? Bukankah mereka selama ini tidak bermanfaat bagi kehidupan hutan?

“Nah, begini jo (wah tambah akrab rupanya Tejo di panggil Jo aja), badak itu sebagai spesies kunci atau spesies payung dalam ekosistem hutan”. Apaan tuh maksudnya pak tua? Berat amat kosakatanya kata tejo sambil nyengir, badak memerlukan tempat hidup berupa hutan alami yang utuh, butuh sumber pakan yang kaya variasi jenisnya, mereka juga sangat suka melumuri tubuhnya dengan lumpur basah dan berjalan sangat jauh menjelajah belantara, tubuh berlumpur sangat sering membawa biji dari tumbuhan yang dimakannya dan ini akan terbawa jauh, belum lagi biji dari kotorannya akan menyebarkan tumbuhan baru. Dengan kata lain kalau badak dapat hidup nyaman berarti hutan itu utuh dan terjaga.

“Oh, begitu”, kata Tejo manggut-manggut. “ Kalau demikian memang Tuhan itu maha adil, ya? Diciptakan-nya Alam ini dengan seimbang agar manusia juga diuntungkan”, Tejo mencoba menganalisa (kayak pengamat aja).
“Itulah, kenapa saya menulis dipohon itu agar siapapun yang peduli terhadap species hewan ini dapat membantu melestarikannya sehingga mereka dapat terus hidup beserta umat manusia berdampingan secara damai. “ Emangnya, jumlah populasi badak hari ini sisa berapa, sih? kata Tejo polos….

Disadur dari majalah Al Zaitun