Dedi Candra
16 Februari 2007 -Salah satu acara pameran dan promosi konservasi badak di Botanical Square Bogor adalah talkshow yang diad
akan tanggal 16 Februari 2007.
Nara sumber talkshow adalah: Widodo S Ramono, Nico Van strien, FX Harry, Faustina Ida dengan pembawa acara Okky. Acara yang hanya 1 jam terasa sangat cepat karena antusias peserta menanyakan tentang keberadaaan badak di Indonesia. Disini Wako hanya menampilkan beberapa pertanyaan yang banyak ditanyakan.
Berapa variable minimum (Size) dari suatu species terutama badak?
Jumlah minimum per spesies sekitar 2.500 ekor, jadi jumlah badak Indonesia yang saat ini sekitar 250 ekor (200 ekor badak sumatera dan 50 ekor badak jawa) tentu saja ini diambang kepunahan.
Jika habitat di Ujung kulon musnah, karena akhir-akhir ini banyak bencana alam, kira-kira dimanakah tempat second population untuk badak jawa? Sudah adakah penelitian tentang habitat baru tersebut?
Akhir-akhir ini memang banyak terjadi bencana alam seperti tsunami dan itu bisa membuat ujung kulon musnah, untuk second population sudah ada wacana untuk dipindah ke TN G halimun dan ke Sumatera (Jambi)
Dengan badak jawa di ujung kulon yang populasinya hanya sekitar 50 ekor, maka dikawatirkan adanya inbreeding dan terjadinya kerusakan genetic, bagaimana cara mengatasinya?
Masalah utama dan krusial badak jawa memang in breeding, tetapi dengan upaya konservasi dan dukungan semua pihak maka kita bisa berusaha mengatasinya, seperti halnya dengan badak India yang dahulunya 20-30 ekor sekarang ada 700 ekor, dan di Afrika badak putih yang dulunya 30-50 ekor sekarang 17.000 ekor.
Sampai dimanakah kepedulian masyarakat terhadap badak? Masih adakah perburuan terhadap badak?
Di taman nasional telah dibentuk Rhino Protection Unit (RPU) dan Rhino Monitoring and Protection Unit RMPU, mereka adalah unit-unit yang terdiri dari masyarakat juga, sehingga masyarakat turut berpartisipasi didalamnya.
Bagaimana Andalas hidup ditempat barunya di Indonesia: apakah bisa beradaptasi?
Andalas beradaptasi dengan suhu, tetapi hal itu tidak perlu terlalu dikawatirkan karena sudah ditangani dengan baik dan Andalas saat ini sedang ada di Los Angeles yang suhunya juga hangat. (Warta konservasi edisi V Maret 2007)
Talkshow Welcome Andalas
Posted in Andalas, Rhino on March 2, 2008 by Dedi CandraAndalas sang Indonesian Idol
Posted in Andalas, Rhino on March 2, 2008 by Dedi Candra
Dedi Candra
Kedat
angan Andalas memang menghebohkan. Tanggal 20 Februari 2007 adalah kedatangannya setelah menempuh perjalanan panjang dari Los Angeles Zoo Amerika Serikat. Andalas tiba di Indonesia melalui bandara Soekarno-Hatta tepatnya di terminal III cargo, disana pula dilaksanakan acara penyambutan kedatangan Andalas yang bertajuk “Welcome Andalas”. Acaranya sendiri adalah press conference dan penyambutan oleh Bapak MS Kaban Menteri Kehutanan Indonesia. Luar biasa acaranya, hampir seluruh media TV lokal ada, 5 stasiun TV asing, hampir semua media cetak nasional, pencinta satwa liar bahkan Dik Doang presenter yang terkenal sebagai duta lingkungan turut hadir. Dalam kesempatan ini menteri Kehutanan mengatakan inilah yang kita usahakan, jadi ini tantangan bagi para ahli kita dan pakar-pakar kita, pengamat-pengamat bagaimana pengembangbiakan di Indonesia ini bisa berhasil. Kegiatan ini adalah sebuah tantangan dan usaha dengan berhasil memulangkan badak sumatera dari Amerika. Selama ini usaha untuk reproduksi telah dilakukan, tetapi badak jantan (Torgamba) yang didatangkan dari Inggris itu kurang subur. Selanjutnya menteri menambahkan populasi badak sumatera selama lebih kurang 20 tahun terakhir mengalami penurunan yang sangat drastis, diduga penurunan ini mencapai 50 %, penurunan ini terjadi banyak variable: perburuan liar, rusaknya habitat/perambahan hutan/konversi hutan, kebakaran hutan, pencurian-pencurian kayu dalam kawasan hutan.
Andalas tiba di Indonesia sekitar pukul 17.30 WIB dan langsung diperiksa kelengkapan dokumennya oleh Balai karantina Indonesia. Begitu Andalas keluar dari ruang Cargo, ratusan wartawan sudah menyerbu, kandang yang kecil seakan tenggelam oleh kilauan blitz kamera wartawan. Semua orang ingin melihat sang fenomenal, semua orang ingin dekat dan menyentuhnya. Kedatangan Andalas tepat waktu, selepas magrib Andalas diberi makan oleh bapak menteri dan mulai melanjutkan perjalanan ke SRS TNWK. Iring-iringan rombongan Welcome Andalas menuju pelabuhan merak diiringi rintik hujan yang mengguyur sepanjang perjalanan. Sebelum memasuki pelabuhan Merak Andalas diperiksa pihak karantina pertanian Merak untuk melihat kelengkapan dokumen dan perpindahan antar pulau. Di Merak rombongan tiba lebih cepat dari jadwal kapal yang disewa yaitu pukul 22.00 WIB padahal kapal Jatra III baru sandar pukul 23.00. Waktu menunggu 1 jam dimanfaatkan wartawan untuk wawancara petugas yang mengiringi Andalas. Ramainya wartawan yang ingin meliput dan suasana pelabuhan yang semrawut membuat Andalas sedikit gelisah dan stress, Dokter hewan yang selalu mendampingi Andalas bertindak cepat, Andalas dipindahkan kehalaman kantor ASDP sambil menunggi kapal datang.
Setelah 2 jam mengarungi selat Sunda, rombongan tiba di pelabuhan Bakauheni, disana mobil patroli Polres Lamtim dan polhut sudah menunggu yang akan mengawal perjalanan selanjutnya. Perjalanan terhambat sebentar karena harus diperiksa lagi oleh karantina Lampung. Jalan menuju WK mengalami kerusakan dibeberapa titik sehingga beberapa kali mobil truck pengangkut terguncang. 62 jam tepat dari LA Zoo, Andalas tiba di SRS pagi tanggal 21 Februari 2007, begitu sampai Andalas langsung dibawa kekandang karantina Boma. “Syukur Alhamdulillah semua berjalan lancar sampai Andalas menginjakkan kakinya di tanah Way Kambas” demikian Adi Susmianto Sekdidjen/Direktur KKH Dep Kehutanan. Pak Adi selanjutnya mengatakan “Andalas ini, bisa kita katakan starting point bagi pengembangbiakan yang semi alami difasilitas SRS di Way kambas ini, karena sebelumnya kita belum pernah melakukan hal ini, didunia belum ada yang seperti ini jadi ini adalah yang pertama kali kita mengembalikan hasil captive breeding dari luar negeri ke habitat aslinya”. Harapannya populasi Badak Sumatera dihabitat aslinya akan semakin baik. Dukungan pemerintah sebelumnya sudah disampaikan Dirjen PHKA Arman Malolongan. Pak Dirjen menyampaikan “Kedatangan Andalas ini merupakan salah satu kegiatan yang diprioritaskan pemerintah dalam strategi konservasi Badak Indonesia, yaitu dengan penambahan populasi dari habitat aslinya dan dari hasil penangkaran luar negeri”
Sementara itu ketika ditanya wartawan tentang kemungkinan keberhasilan di masa depan, pakar badak international Nico Van Strien mengatakan “Persentase kami tidak bisa beri, tapi saya kira ada kemungkinan besar berhasil, dia masih muda baru 5 tahun, hormon seperti testosterone sudah diperiksa dan sekarang sudah tinggi. Andalas memerlukan adaptasi 3-6 bulan baru bisa dikeluarkan ke kandang besar setelah itu kami mencoba mendekati dengan betina, harapan saya 1-2 tahun sudah ada badak yang sudah hamil”.
Melihat sambutan dan antusias kedatangan Andalas, pengawal Andalas dari Amerika. DR. Robin WR, DR Curtis Eng dan Steve Romo berujar “ Andalas sang Indonesian Idol” …….. (Warta konservasi edisi V Maret 2007)
S I A R A N P E R S : INDONESIA MENERIMA SEEKOR BADAK JANTAN DARI AMERIKA SERIKAT
Posted in Konservasi on March 2, 2008 by Dedi CandraNomor : S.44/II/PIK-1/2007
Indonesia akan menerima kedatangan seekor badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dari Amerika Serikat pada tanggal 20 Pebruari 2007. Badak jantan yang masih remaja berumur 5 tahun ini bernama Andalas.
Kedatangan Andalas mendorong pemerintah Indonesia khususnya Suaka Rhino Sumatra (SRS) untuk dapat mengembangbiakkan badak Sumatera dalam sebuah penangkaran (ex-situ). Andalas yang dalam kondisi sehat dan siap kawin nantinya akan dipasangkan dengan badak Sumatera betina yang masih muda yaitu Rosa dan Ratu yang sudah lebih dahulu menghuni SRS.
Kepulangan Andalas ke Indonesia seperti halnya dengan translokasi badak Sumatera betina, Rosa dan Ratu, merupakan salah satu kegiatan yang diprioritaskan dalam Strategi Konservasi Badak Indonesia (SKBI) yang telah direvisi bulan Februari 2005. Dalam SKBI terdapat butir-butir yang menyebutkan bahwa Prioritas Kegiatan untuk periode tahun 2006-2010 untuk badak Sumatera adalah program pengembangbiakan badak Sumatera di SRS Lampung ’didorong’ dengan mendatangkan 2-3 ekor badak Sumatera dari habitat aslinya dan 1 ekor lagi badak Sumatera dari penangkaran di luar negeri.
Andalas adalah badak Sumatera pertama yang berhasil dilahirkan dari perkawinan di dalam penangkaran (ex-situ). Andalas lahir pada tanggal 13 September 2001 di Cincinnati Zoo, USA, dari pasangan badak Sumatera betina bernama Emi dan badak Sumatera jantan bernama Ipuh. Pada tahun 2003, kedua pasangan badak ini juga menghasilkan keturunan bayi badak Sumatera betina yang kemudian diberi nama Suci. Kedua pasangan badak ini, Ipuh dan Emi, merupakan badak Sumatera hasil tangkapan dari kawasan Bengkulu sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat melalui program penangkapan (capture program) dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia melalui Departemen Kehutanan bekerjasama dengan Sumatran Rhino Trust (SRT) periode tahun 1980-1994. Program penangkapan tersebut ditujukan untuk menyelamatkan badak Sumatera yang terdesak (doomed) akibat habitat yang makin menyempit dan perburuan. Ipuh ditangkap tahun 1990 dan pada saat itu berumur kira-kira 20 tahunan, sedangkan Emi ditangkap tahun 1991 dan berumur kurang lebih 8 tahun. Kedua badak ini dikirim ke Cincinnati Zoo, USA, karena Cincinnati Zoo berhasil melakukan breeding pada spesies badak lain.
Upaya penangkaran badak Sumatera dari Indonesia telah berjalan selama 20 tahun. Namun 75% badak Sumatera yang dipelihara di kebun-kebun binatang tersebut mati karena pengelolaan yang kurang tepat selama kurun waktu 1985-1997. Upaya penangkaran badak Sumatera kini hanya ada di Suaka Rhino Sumatera (SRS) di Way Kambas, Lampung. SRS selesai dibangun tahun 1997 dengan luas kawasan sekitar 100 ha yang merupakan habitat alami badak Sumatera. Tahun 1998 SRS sudah dihuni oleh tiga badak Sumatera, yaitu Bina (betina, 15 tahun), Dusun (betina, 17 tahun), dan Torgamba (jantan, 20 tahun). Namun pada tanggal 7 Februari 2001 Dusun mati karena sakit kronis dan faktor ketuaan (usia).
Sejak dibangunnya SRS sampai dengan sekarang, SRS belum berhasil melaksanakan breeding pada Bina. Hal tersebut disebabkan beberapa asumsi seperti usia kedua badak Sumatera, Bina dan Torgamba, sudah sangat tua; hasil pemeriksaan laboratorium juga menunjukkan bahwa sel sperma Torgamba sangat sedikit dan lemah sehingga kemungkinan untuk membuahi juga kecil.
Rencananya Andalas yang sehat dan siap kawin akan dipasangkan dengan Badak Sumatera betina muda Rosa dan Ratu yang telah lebih dahulu menghuni SRS. Rosa adalah badak Sumatera betina berumur kurang lebih 5 tahun yang berasal dari hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Badak betina ini pertama kali ditemukan pada bulan Mei 2004 kemudian kerap muncul di jalan tembus antara Sukaraja-Pemerihan, Lampung. Pemantauan oleh Rhino Protection Unit (RPU) yang dilakukan selama tahun 2005 menunjukkan bahwa Rosa sering keluar hutan dan berada di kebun masyarakat juga tidak takut didekati oleh manusia. Perilaku badak yang tidak biasa tersebut menimbulkan kekhawatiran bagi semua pihak. Oleh karena itu dilakukanlah usaha penyelamatan badak Rosa sehingga Rosa berhasil dipindahkan ke SRS pada tanggal 26 Nopember 2005.
Ratu, seperti halnya Rosa, adalah badak Sumatera betina berumur kurang lebih 6 tahun berasal dari hutan Taman Nasional Way Kambas. Namun Ratu bukan badak yang jinak. Ratu ditemukan di tengah perkampungan dan lahan pertanian penduduk karena takut kehadiran manusia. Selama kurang lebih 5 jam berlari-larian di tengah perkampungan, lahan pertanian, jalan raya beraspal atau berbatu dalam kondisi cuaca yang panas. Walaupun beberapa kali sempat masuk rawa, kolam di halaman rumah dan sungai-sungai kecil Ratu sempat berlari sejauh kurang lebih 20 kilometer. Ratu akhirnya berhenti berlari karena kehabisan tenaga di pinggir sungai kecil di kecamatan Labuhan Ratu (4 km dari batas kawasan TNWK). Pada hari itu juga, yaitu tanggal 26 September 2005, Ratu berhasil dipindahkan ke SRS.
Sumber:
Departemen Kehutanan Republik Indonesia
Jakarta, 16 Februari 2007
Kepala Pusat, Achmad Fauzi
Selasa , 20 Februari 2007 12:00:20 WIB www.Dephut.go.id dan Warta konservasi edisi V Maret 2007
Welcome Andalas
Posted in Andalas, Rhino on March 2, 2008 by Dedi CandraDedi Candra
AN
DALAS… Nama itu begitu fenomenal pada 13 September 2001, 2 hari setelah berita besar dimana Gedung WTC di USA hancur lebur dihantam pesawat teroris. Maklum ia Badak Sumatera (BS) pertama hasil penangkaran, setelah 100 tahun lebih orang memelihara BS. Memang pernah ada “Minah” di Sungai Dusun Malaysia tapi induknya telah hamil ketika ditangkap dari hutan. Kepopuleranya bukan hanya di Cincinnati Zoo tempat dimana ia dilahirkan tetapi semua pencinta badak diseluruh dunia ingin tau keadannya. Kini Andalas telah besar, lima tahun sudah usianya. Badak Jantan ini sebentar lagi akan pulang kekampung halaman ayah (Ipuh) dan ibunya (Emi), yaitu ke Sumatera tepatnya ke Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) Way Kambas Lampung. Andalas adalah badak jantan yang beranjak dewasa, ia butuh pembelajaran dan pasangan untuk mengawal kedewasaannya, badak yang mungkin menjadi pasangannya didunia saat ini hanya Ratu dan Rosa , dua ekor badak betina yang ada di SRS, usia merekapun sepantaran 5-6 tahun. Andalas sebenarnya tidak mempunyai pilihan untuk masa depannya selain dibawa ke SRS karena tidak mungkin ia dikawinkan dengan ibunya “emi” atau adiknya “suci” di Amerika sana, akan terjadi inbreeding/perkawinan sedarah nantinya. Apabila inbreeding terjadi maka akan merubah genetik murni dari sang badak, biasanya akan mucul sifat-sifat turunan yang jelek dan tentu akan merusak plasma nutfah. Segala upaya diusahakan agar Andalas bisa dibawa ke Way Kambas, setelah melalui proses dan negosiasi panjang dan melelahkan akhirnya diputuskan bahwa Andalas akan dibawa ke Way Kambas dengan program jangka panjang mengawinkannya dengan Ratu dan Rosa. SRS telah dan sedang melakukan segala persiapan untuk menyambut kedatangan Andalas, mulai dari perijinan, karantina, perkandangan, personil, dll. Welcome Andalas……. (Warta konservasi edisi IV December 2006)
Gajahku ……..
Posted in Gajah on March 2, 2008 by Dedi CandraDedi Candra
Suatu areal yang dipagari kanal besar dan dalam, itulah rumah bagi 61 ekor gajah di Pusat Latihan Gajah Way Kambas. Bak sebuah kerajaan besar disana ada hirarki kehidupan, disana ada sang penguasa, ada sang raja. Tetapi kini keadaaan sedang tak menentu, beberapa jantan besar mulai berebut kekuasaaan maklum beberapa waktu lalu sang Raja yang telah lama bertahta “ Sengtong” telah tiada. Disana juga ada “kartijah” sang ibu bijaksana, dia adalah allow mother (ibu asuh) sejati bagi gajah-gajah kecil yang bermasalah, cocok sekali nama itu karena kartijah berarti kartininya gajah. Kini kartijah sedang mengasuh “Braja” jantan kecil yang ditemukan didalam sumur warga. Braja sangat dekat dengan kartijah bahkan sangat dekat, jangan coba-coba mengganggu Braja, Kartijah akan murka. Oo ya kabarnya kartijah sedang hamil juga, tentu Braja akan sangat senang mempunyai adik kecil.
Menyinggung sang raja baru, dari beberapa kandidat sepertinya “ Tony” yang akan naik tahta, ketika masa mash, Toni mulai beringas, dahulu tidak seperti itu karena dulu ada Sengtong. Ada juga beberapa gajah kecil lagi yang hidup disana.
Pagar kanal juga menarik karena sebelumnya tidak ada. Kanal ini dibuat untuk membuat batas atau areal yang terisolasi dari sekelilingnya, mencegah “kerbau liar” beraktivitas di kandang gajah, juga untuk menghindari gangguan gajah liar. Populasi yang banyak tentu bukan tidak bermasalah, perlu penanganan yang serius dari semua pihak bukan hanya TNWK, partisipasi dan kontribusi dari semuanya dalam bentuk apapun sangat diperlukan, mari kita bangun PLG dan gajah kita sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Bayangkan saja memberi makan 61 ekor gajah bukan perkara mudah, apalagi perawatannya terutama kesehatan, perlu keseriusan dan perhatian penuh. Sekarang bukan masanya saling menghujat dan menjatuhkan, banyak sekali yang katanya pemerhati satwa berkomentar miring bahkan menghujat, itu tidak cukup untuk menolong PLG, silahkan saja siapapun berkomentar tetapi tolong beri juga solusinya bahkan kalau perlu action langsung. Semoga gajahku tetap survive… tetap lestari… tetap abadi…. (Warta konservasi edisi V Maret 2007)
Sang Raja Telah Tiada
Posted in Gajah on March 2, 2008 by Dedi CandraDedi Candra
Sengtong dihajar gajah liar “ Dugul”, dengan kondisi terikat dipatok beton, Sengtong tidak mempunyai keleluasaan bertarung dengan dugul sehingga beberapa bagian tubuhnya mengalami luka bahkan ekornya putus pada bagian ujung, bahkan yang menyedihkan Sengtong sampai roboh ditabrak dugul.
Kondisi kesehatan yang menurun dan terus menurun walaupun masih bisa beraktivitas normal membuat kondisinya secara umum melemah. Beberapa penyakit yang menghinggapinya seperti infasi parasit, anemia, kekurangan protein, dll memperburuk keadaannya. Kondisi PLG yang kurang kondusif untuk pemeliharaan gajah juga berpengaruh terhadap kesehatannya. Kejadian terakhir ketika hendak minum pada 3 Januari 2007, Sengtong terjatuh ketika pulang dari tempat ia minum…. 2 kali ia terjerembab. Dengan bobot hampir 3 ton tentu bukan jatuh biasa yang dialami Sengtong. Sebentar meregang nyawa dan Sengtongpun mati.
Malamnya segera dilakukan nekropsi, adapun hasilnya: Secara umum organ-organ seperti hati, jantung, paru, ginjal, limfa, pangkreas, testis tidak mengalami kelainan, tetapi pada saluran pencernaan (Lambung dan usus terdapat masalah). Lambung dan usus hampir kosong hanya berisi ~ 15 % makanan, usus besar dan lambung ditemukan infasi parasit cacing Paramphistomum sp yang luar biasa banyaknya, hampir tidak ada celah di dinding usus semua tertutup cacing yang bekas perlekatannya meninggalkan nodul-nodul kecil yang apabila tergesek mengeluarkan darah. Kondisi seperti ini menimbulkan anemia kronis, tidak efektif penyerapan makanan dan menimbulkan pendarahan/infeksi usus/lambung. Dan yang lebih dikawatirkan beberapa gajah lain kemungkinan besar memiliki kasus yang sama dengan Sengtong, jadi keseriussan pengelola (TNWK dan mitra) sangat diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk pada gajah lain. Untuk memperkuat diagnosa semua sample organ dikirim ke FKH IPB Bogor.
Kita berharap semoga ini kematian terakhir gajah di PLG Way Kambas, tetapi apabila kita semua tidak serius menanganinya bukan tidak mungkin dalam waktu dekat akan ada gajah-gajah lain yang mati. Sengtong semoga kematianmu memberi pelajaran pada semuanya, semoga raja yang akan menggantikanmu bukan raja yang sakit-sakitan tetapi raja yang kuat dan perkasa. Kini …. sang raja telah tiada. (Warta konservasi edisi V Maret 2007)
SELAMAT JALAN SENGTONG
Posted in Gajah on March 2, 2008 by Dedi CandraHarno dan Dedi
Harno…. “A
ntar Drh Dedi ke PLG untuk melihat Sengtong yang sedang sekarat” perintah Marcel manajer SRS kepada Harno Polhut TNWK yang sedang bertugas di SRS. Kami semua sangat terkejut mendengar berita itu, maklum yang kami tahu Sengtong adalah Gajah jantan terkuat di PLG. Ketika mempersiapkan alat-alat yang akan dibawa kembali Marcel memberi info bahwa Sengtong telah tiada, Lemes…. Sedih…. Satu lagi Gajah PLG mati. Peralatan yang tadinya untuk perawatan berupa selang infus dan obat-obatan berganti dengan rentetan pisau bedah untuk menekropsi Sengtong.
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya maklum kini sedang musim hujan, sewaktu-waktu bisa terjadi hujan atau memang alam sedang berduka bahwa Sengtong telah tiada. Aku menyiapkan sepeda motor yang akan dibawa karena kami tidak bisa membawa mobil, satu-satunya jalan sedang diperbaiki jadi hanya cukup untuk sepeda motor menyusuri jalan setapak yang sangat licin dan berliku. Luar biasa derasnya hujan senja itu tapi kami harus segera sampai ke PLG, jarak 20 km yang kami tempuh semakin terasa panjang karena kondisi jalan yang sangat jelek, beberapa kali kami tergelincir dan terjerembab ke selokan berlumpur, pakaianpun basah kuyup rasanya tak ada bagian tubuh yang kering, basah semuanya.
Setelah bertemu dengan Pimpinan PLG kamipun menuju lokasi Sengtong, disana sudah banyak orang, ada pawang, WWF, WCS, staff TN Polhut, dll. Satu escavator sedang menarik tubuh Sengtong ke lokasi yang lebih datar untuk memudahkan nekropsi. Melihat Sengtong tergeletak tak bernyawa, sedih rasanya walaupun aku bukan pawangnya tapi sebagai orang yang bekerja dikawasan konservasi melihat itu tetap pedih rasanya, sang raja yang dulu perkasa kini hanya onggokan besar tak berguna dan sebentar lagi akan dicabik-cabik untuk melihat kondisi organ-organnya, untuk mencari tau apa penyebab kematiannya.
Dokter Dedi dan Esti, bersama pak Nazar, pak Didik, pak Taman, dll bersiap dengan golok dan pisau ditangan, mereka siap membongkar tubuh seberat hampir 3 ton itu. Dengan kamera ditangan aku berusaha mengabadikan setiap momen dimalam itu, semua orang terlihat sibuk, tapi ada juga yang hanya berdiri melihat proses nekropsi. Sayat demi sayatan dan potong demi potongan terus dilakukan sampai hampir semua organ ditemukan, sepertinya sejauh ini belum ditemukan sesuatu yang mencurigakan terhadap penyebab kematian Sengtong. Tiba-tiba bulu romaku merinding melihat usus dan lambung dibuka, hanya sedikit sisa makanan disana, yang membuat semua orang terkejut adalah keberadaan parasit (yang aku duga sejenis Cacing) menempel merata diselutur permukaan usus, ribuan banyaknya…. Bergerak perlahan tapi pasti…. Aku masih bertanya-tanya apa gerangan itu, ah… biarlah nanti aku tanya ke Dokter Dedi, apa gerangan mahkluk itu, sambil kembali mengarahkan kamera ke tubuh Sengtong.
Wajah lelah, pucat dan sedih terlihat diraut wajah semua orang yang ada di tempat itu. Ketika nekropsi selesai barulah terasa dingin dan menggigil tubuh ini, maklum sejak senja sampai dini hari dimana nekrosi baru selesai aku tetap memakai pakaian yang basah tadi, tak teringat sama sekali untuk menukarnya karena pikiranku hanya pada Sengtong….
Tanah terakhir yang menutup pusara Sengtong mengiringi kepergian kami dari tempat itu. Selamat jalan Sengtong…… (Warta konservasi edisi V Maret 2007)
GAJAH MENARI DI BAKAUHENI
Posted in Ragam on March 2, 2008 by Dedi CandraDedi Candra
Lampung memang
identik dengan gajah, apapun kegiatan atau acara besar di daerah Lampung hampir pasti menampilkan atraksi gajah dan tentu saja gajahnya gajah jinak dan pintar dari Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas. Seperti ketika pembukaan festival Krakatau ke-XV yang dipusatkan di pelabuhan Bakauheni tepatnya di Darmaga IV pada tanggal 27 Agustus 2005. 15 ekor gajah Way Kambas memeriahkan acara tersebut. Festival kali ini mencoba membuat nuansa berbeda dari pergelaran tahun-tahun sebelumya, salah satu pertimbangan diadakannya di Bakauheni – Lampung Selatan adalah pelabuhan tersebut merupakan pintu gerbang dari Jawa dan Sumatera, diharapkan kegiatan ini dapat menarik wisatawan yang cukup besar ke “Bumi Ruwa Jurai”.
Festival kali ini menampilkan utusan seluruh daerah tingkat II di Lampung, menampilkan sendra tari yang dipadukan dengan atraksi gajah. Ceritanya dengan skenario perang gajah antara dua kerajaan yang dipimpin oleh Pangeran Liman Sakti dengan gajah andalannya Gardala melawan Raja Adiguna Samber Jagat. Dalam cerita perang gajah tersebut, kerajaan Liman Sakti direbut oleh Raja Adiguna Samber Jagat, maka terjadilah perang yang sangat dahsyat dan akhirnya Pangeran Liman Sakti dapat merebut kerajaannya kembali berkat Gardala. (Warta konservasi edisi IV December 2006)
REOG BADAK
Posted in Ragam on March 2, 2008 by Dedi CandraDedi Candra
Bermula dari i
de DR. Robin WR advisor kesehatan dan reproduksi Sumatran Rhino Sanctuary dari International Rhino Fondation (IRF) Amerika, tentang keinginannya yang besar terhadap patung/topeng kepala badak sumatera. Hampir seluruh desa disekitar Taman Nasional Way Kambas ditelusuri, mencari keberadaan pemahat yang bisa membuat patung kepala badak sumatera menyerupai aslinya. Akhirnya didapatlah pak Ketut Dunia dan Pak Riman dari desa Braja Indah Braja Selebah Lampung Timur yang biasa membuat berbagai macam dan bentuk patung. Seiring dengan selesainya pembuatan patung kepala badak, terdapatlah sebuah grup Reog Ponorogo di desa Labuhan Ratu IX atau yang lebih dikenal dengan nama Plang Ijo yang baru saja berdiri tanggal 1 Februari 2005.
Kabupaten Ponorogo Jawa Timur yang sekarang sudah menjadi kota yang maju, dahulunya berupa tanah Wengker yang merupakan hutan lebat lagi angker. Di Ponorogo terdapat situs tentang berdirinya Kerajaan Bantarangin yang dipimpin oleh Prabu Kelana Sewandana, di situlah awalnya muncul sebuah kesenian yang sekarang dikenal sebagai reog ponorogo. Adapun tarian reog mengambil kisah Panji. Ceritanya berkisar tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana mencari gadis pujaannya, ditemani prajurit berkuda dan patihnya yang setia, Bujangganong. Ketika pilihan sang prabu jatuh pada putri Kediri, Dewi Sanggalangit, sang Dewi memberi syarat bahwa ia akan menerima cintanya apabila sang prabu bersedia menciptakan sebuah kesenian baru. Maka terciptalah reog ponorogo. Sebenarnya gerakan-gerakan dalam tari reog ponorogo menggambarkan tingkah polah manusia dalam perjalanan kehidupan mulai dari lahir, hidup, hingga mati. Adapun makna dari reog sendiri mengandung kearifan yang dalam. Seiring berjalannya waktu, reog ponorogo menjadi sebuah kesenian yang mempunyai format pementasan yang beragam, meskipun tidak meninggalkan konsep aslinya. Bagian atau unsur dari tarian reog adalah jatil, barongan, dadak merak, kelana sewandana dan warok, bentuk penampilannya lebih individu dimana ketika satu unsur sedang berpentas, unsur yang lain harus diam. Walaupun sekarang sudah sering juga ditampilkan bersamaan (Kompas Jumat 15 Oktober 2004). Ketika pemerintah mengadakan program pemerataan penduduk melalui Transmigrasi, banyak sekali masyarakat Jawa yang eksodus ke Pulau Lain tak terkecuali Pulau Sumatera dan daerah Lampung. Seiring perpindahan penduduk tersebut ikut pula terbawa kesenian dari daerah asal termasuk Reog. Reog ponorogo menjadi sangat terbuka akan pengayaan dan perubahan ragam geraknya dan penarinyapun tidak terbatas dari masyarakat Jawa.
Grup Reog Ponorogo Plang Ijo yang baru terbentuk itu, masih sangat muda walaupun beberapa anggotanya sudah pernah menjadi anggota reog. Dipimpin oleh Pak Ru, Reog ini menjadi harapan masyarakat Plang Ijo dalam mengembangkan tradisi leluhur dan pariwisata, anggotanya pun terdiri dari warga masyarakat setempat dari berbagai lapisan umur. Setiap sabtu malam mereka latihan dengan sangat antusias dan warga masyarakatpun turut serta mendukung dengan menghadiri setiap latihan.
Ketertarikan yang tinggi terhadap kesenian atau tradisi asli Indonesia membawa DR. Robin setiap ada waktu selalu melihat latihan dan berdiskusi dengan grup ini, sampai larut malampun dia betah melihat aksi tarian reog. Ibarat kata pepatah tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Gayungpun bersambut melalui pak Ru dedengkot grup Reog yang dengan sangat senang hati dan terbuka menerima tarian Badak masuk menjadi bagian dari Reog yang beliau pimpin, anggota yang lainpun dengan antusias menyambut bergabungnya tarian badak ke grup mereka. Mulailah Sarno seorang keepers SRS memainkan tarian badaknya, dimana si Sarno memakai kostum badak sumatera lengkap.
Dalam proses penggabungan tarian badak ini tidak terlepas dari peran Karyawan SRS termasuk keeper. Penampilan perdana 3 Maret 2005 di Plang Ijo mendapat sambutan yang luar biasa walaupun tampil dihalaman terbuka dalam cuaca hujan masyarakat tetap setia menyaksikan sarno bergoyang. Selanjutnya ketika ada kunjungan dari IRF, reog ini tampil dengan menyakinkan. Luar biasa ketika kampung Plang Ijo berubah menjadi desa Labuhan Ratu IX pelantikannya oleh Bupati Lampung Timur juga ditandai aksi reog ini, kegiatan reog ini berlanjut ketika Pak menteri, Gubernur, Bupati dan rombongan berkunjung ke SRS tanggal 18 April 2005. Kolaborasi yang telah dirintis ini, alhamdulillah mendapat support dari petinggi SRS-TNWK. Melalui Marcel (site manager ketika itu) berjanji akan melanjutkan kegiatan ini, hal ini sangatlah penting dalam rangka pendekatan alami kepada masyarakat sekitar yang mempunyai latar belakang dan budaya berbeda-beda.
Oo iya patung kepala badak (yang selanjutnya disebut reog badak) dibuat dari kayu Dadap atau mahoni yang mana kayu jenis ini bukan berasal dari kawasan TNWK dan aksesoris lain tanpa memakai kulit, bulu atau rambut satwa, hal ini dimaksudkan sebagai bagian dari pendidikan dan penyadartahuan bagi masyarakat agar jangan merusak hutan dan memanen satwa seenaknya.
Tak …. Tak ….. tak … tak… tung…. Grup reog kembali berlatih dan berlatih karena mereka sudah siap untuk tampil di muka umum. (Warta konservasi edisi II June 2005)
Bunga Bangkai Mekar di SRS
Posted in Flona on March 2, 2008 by Dedi CandraDedi Candra
Yuhad
i salah seorang keeper badak di Sumatran Rhino Sanctuary Taman Nasional Way Kambas (TNWK) menemukan bunga bangkai yang sedang mekar. Penemuan ini secara tidak sengaja terjadi ketika dia sedang mengikuti aktivitas Rosa dihutan pada tanggal 15 Maret 2007. Lokasi penemuan di atas sungai kecil di dalam semak-semak. Awalnya Rosa badak betina asal Taman Nasional Bukit Barisan Selatan mendengus sambil mencium sesuatu, rupanya Rosa menemukan sesuatu yang aneh. Setelah didekati oleh Yuhadi ternyata ada sebuah bunga bangkai jenis Amorphopalus sp setinggi 2 meter. Penemuan ini tidak aneh di SRS karena pada tahun 1999 pernah juga ditemukan bunga serupa oleh Rakimin, juga keeper badak. Keberadaaan bunga jenis ini di TNWK cukup menarik karena ternyata dibulan Maret ini juga ditemukan di sekitar Way Binjai Resor Plang Hijau Seksi Kuala Penet. Tentu saja ini merupakan potensi baru di TNWK dan bisa menarik minat wisatawan. (Warta konservasi edisi V Maret 2007)