13 September 2
001, di Cincinnati Zoo Amerika Serikat lahir seekor bayi badak sumatera yang sehat dan lucu, badak kecil ini diberi nama Andalas. Kelahirannya merupakan sepercik harapan bagi kehidupan spesies ini dimasa yang akan datang dan merupakan tonggak sejarah konservasi badak sumatera, karena sekitar 100 tahun lalu orang sudah memelihara badak sumatera baru kali ini berhasil lahir di captive (kandang penangkaran buatan). Dengan hanya sekitar 300 ekor yang bertahan hidup di alam liar dan 10 ekor di captive, badak sumatera benar-benar spesies yang sedang dalam keadaaan kritis dan terancam, saat ini badak sumatera merupakan salah satu dari mamalia besar yang hampir punah didunia. Walaupun seekor anak badak tidak akan menyelamatkan spesies ini, kelahiran Andalas telah didengungkan sebagai bagian yang penting pada zaman ini (Alm Dr. Tom Foose – IRF), karena akhirnya membuktikan dapat menyibak misteri tentang perkembangbiakan spesies ini di captive.
13 September 2007, Andalas kecil kini sudah besar dan tempatnya pun sudah pindah ke Taman Nasional Way Kambas tepatnya di Suaka Rhino Sumatera. Seiring dengan bertambahnya usia Andalas terselip harapan besar bagi keberhasilannya mengawini badak betina lain seperti Ratu, Rosa dan Bina. Tak lain untuk penambahan populasi badak sumatera yang memang sangat sedikit dan terus turun dari waktu ke waktu.
Usia ini adalah usia awal memasuki kedewasaan dan Andalas berada ditempat yang tepat untuk menuju kedewasaannya, dimana di Way Kambas ia mempunyai 3 ekor betina sebagai pasangannya. Andalas buktikan kejantananmu dan Selamat Ulang tahun, Happy Birthday big boy..
Archive for the Andalas Category
Happy Birthday Andalas
Posted in Andalas, Rhino on March 2, 2008 by Dedi CandraBack to Jungle
Posted in Andalas, Rhino on March 2, 2008 by Dedi CandraDedi Candra
30 Agustus
2007 – Andalas sang phenomenal sejak 30 Mei 2007 mulai dilepaskan kelokasi hutan sebenarnya setelah melewati masa karantina dan adaptasi selama hampir 3 bulan. Sejak kedatangannya tanggal 21 Februari 2007 dari kebun binatang Los Angeles Amerika, Andalas badak muda berumur hampir 6 tahun ini banyak belajar tentang hidup dialam yang sebenarnya. Awalnya dia sangat takut terhadap hutan luas maklum sebelumnya hanya memiliki lokasi yang kecil, dia sangat takut dengan gelap maklum di Amerika selalu tersedia lampu penerangan, dia sangat takut mendengar bunyi ranting kering yang diinjaknya sendiri maklum dia tidak pernah memiliki tempat yang banyak semaknya, dia sangat takut jauh dari keepernya maklum dia selalu diawasi, dia sangat marah melihat babi hutan maklum di termpat asalnya tidak ada satwa lain di lokasinya kecuali dia sendiri dan masih banyak lagi kejadian-kejadian aneh dan lucu mengawal proses pengenalan Andalas terhadap hutan belantara. Babi hutan memang sangat dimusuhi oleh Andalas, ketika melihat dan mencium bau mahkluk ini, Andalas akan langsung mengejar dengan meninggalkan aktivitas yang dia lakukan sebelumnya, ini menjadi kendala tersendiri bagi petugas dalam mengajarkannya terhadap hutan Way Kambas, karena apabila dia sudah marah bukan hanya babi yang diuber tetapi keeper juga diserang dan tentu saja ini berbahaya. Dengan bobot hampir 700 kg tentu saja akan fatal kalau tertabrak. Syukur Alhamdullillah kondisi Andalas secara umum baik dan dia mulai banyak memakan tumbuhan asli Way Kambas terutama jenis Ficus dan akar-akaran tapi tentu saja Apple harus selalu tersedia karena itu sangat disukainya.
Ketika dikenalkan dengan salah satu badak betina “ Rosa”, Andalas merasa aneh, “wah ada juga mahkluk sepertiku” batin Andalas, mungkin sebelumnya dia anggarp hanya dia sendiri yang hidup dihutan luas Way Kambas. Tentu saja ini membangkitkan Adrenalinnya…langsung saja keceriaan dan ketertarikannya bertambah dan secara naluri Andalas mulai urin (kencing-red) seperti badak jantan umumnya (yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya) yaitu dengan menggosok-gosokkan kepalanya kededaunan, kemudia urin sambil menggaruk-garukkan kaki belakangnya ketanah. Semua yang melihat bertepuk tangan sambil tertawa karena urinnya masih memancar kesana-kemari “ wah… kencingnya belum lurus” celetuk salah seorang keeper yang memonitornya.
Waktu terus berlalu seiring dengan besarnya harapan terhadap Andalas demi keberhasilan penambahan populasi badak Sumatera yang memang semakin sedikit. Andalas… back to jungle …. masa depan badak Sumatera ada padamu…….
Badak Sumatra – Quarantine Period
Posted in Andalas, Rhino on March 2, 2008 by Dedi CandraDedi Candra![]()
1 Maret 2007 – Suaka Rhino Sumatra (SRS) ditunjuk oleh Balai Karantina Pertanian Indonesia melalui Balai karantina kelas I panjang Lampung sebagai Instalasi Karantina Hewan Sementara (IKHS). Karantina ini sendiri direncanakan selama 1 bulan dimana 14 hari awal dipantau oleh langsung oleh Balai Karantina. Sementara penanganan kesehatan dan adaptasi Andalas langsung oleh tim khusus yang terdiri dari Robin (IRF), Curtis Eng, Steve Romo (LA Zoo), M. Agil (IPB/SRS), Dedi Candra, Marcellus Adi dan Andriansyah (SRS). Awal datang Andalas mengalami kelelahan dan sedikit stress tetapi setelah beberapa saat kondisinya mulai membaik, bahkan hari-hari berikutnya lebih baik lagi, semua proses berjalan lancar tanpa gangguan berarti. Kandang Boma sendiri berukuran 20×30 m2 ditambah sebuah kandang perawatan yang diberi cover “ kelambu“, maklum Andalas belum pernah tergigit ekto parasit di negeri asalnya. (Warta konservasi edisi V Maret 2007)
Talkshow Welcome Andalas
Posted in Andalas, Rhino on March 2, 2008 by Dedi CandraDedi Candra
16 Februari 2007 -Salah satu acara pameran dan promosi konservasi badak di Botanical Square Bogor adalah talkshow yang diad
akan tanggal 16 Februari 2007.
Nara sumber talkshow adalah: Widodo S Ramono, Nico Van strien, FX Harry, Faustina Ida dengan pembawa acara Okky. Acara yang hanya 1 jam terasa sangat cepat karena antusias peserta menanyakan tentang keberadaaan badak di Indonesia. Disini Wako hanya menampilkan beberapa pertanyaan yang banyak ditanyakan.
Berapa variable minimum (Size) dari suatu species terutama badak?
Jumlah minimum per spesies sekitar 2.500 ekor, jadi jumlah badak Indonesia yang saat ini sekitar 250 ekor (200 ekor badak sumatera dan 50 ekor badak jawa) tentu saja ini diambang kepunahan.
Jika habitat di Ujung kulon musnah, karena akhir-akhir ini banyak bencana alam, kira-kira dimanakah tempat second population untuk badak jawa? Sudah adakah penelitian tentang habitat baru tersebut?
Akhir-akhir ini memang banyak terjadi bencana alam seperti tsunami dan itu bisa membuat ujung kulon musnah, untuk second population sudah ada wacana untuk dipindah ke TN G halimun dan ke Sumatera (Jambi)
Dengan badak jawa di ujung kulon yang populasinya hanya sekitar 50 ekor, maka dikawatirkan adanya inbreeding dan terjadinya kerusakan genetic, bagaimana cara mengatasinya?
Masalah utama dan krusial badak jawa memang in breeding, tetapi dengan upaya konservasi dan dukungan semua pihak maka kita bisa berusaha mengatasinya, seperti halnya dengan badak India yang dahulunya 20-30 ekor sekarang ada 700 ekor, dan di Afrika badak putih yang dulunya 30-50 ekor sekarang 17.000 ekor.
Sampai dimanakah kepedulian masyarakat terhadap badak? Masih adakah perburuan terhadap badak?
Di taman nasional telah dibentuk Rhino Protection Unit (RPU) dan Rhino Monitoring and Protection Unit RMPU, mereka adalah unit-unit yang terdiri dari masyarakat juga, sehingga masyarakat turut berpartisipasi didalamnya.
Bagaimana Andalas hidup ditempat barunya di Indonesia: apakah bisa beradaptasi?
Andalas beradaptasi dengan suhu, tetapi hal itu tidak perlu terlalu dikawatirkan karena sudah ditangani dengan baik dan Andalas saat ini sedang ada di Los Angeles yang suhunya juga hangat. (Warta konservasi edisi V Maret 2007)
Andalas sang Indonesian Idol
Posted in Andalas, Rhino on March 2, 2008 by Dedi Candra
Dedi Candra
Kedat
angan Andalas memang menghebohkan. Tanggal 20 Februari 2007 adalah kedatangannya setelah menempuh perjalanan panjang dari Los Angeles Zoo Amerika Serikat. Andalas tiba di Indonesia melalui bandara Soekarno-Hatta tepatnya di terminal III cargo, disana pula dilaksanakan acara penyambutan kedatangan Andalas yang bertajuk “Welcome Andalas”. Acaranya sendiri adalah press conference dan penyambutan oleh Bapak MS Kaban Menteri Kehutanan Indonesia. Luar biasa acaranya, hampir seluruh media TV lokal ada, 5 stasiun TV asing, hampir semua media cetak nasional, pencinta satwa liar bahkan Dik Doang presenter yang terkenal sebagai duta lingkungan turut hadir. Dalam kesempatan ini menteri Kehutanan mengatakan inilah yang kita usahakan, jadi ini tantangan bagi para ahli kita dan pakar-pakar kita, pengamat-pengamat bagaimana pengembangbiakan di Indonesia ini bisa berhasil. Kegiatan ini adalah sebuah tantangan dan usaha dengan berhasil memulangkan badak sumatera dari Amerika. Selama ini usaha untuk reproduksi telah dilakukan, tetapi badak jantan (Torgamba) yang didatangkan dari Inggris itu kurang subur. Selanjutnya menteri menambahkan populasi badak sumatera selama lebih kurang 20 tahun terakhir mengalami penurunan yang sangat drastis, diduga penurunan ini mencapai 50 %, penurunan ini terjadi banyak variable: perburuan liar, rusaknya habitat/perambahan hutan/konversi hutan, kebakaran hutan, pencurian-pencurian kayu dalam kawasan hutan.
Andalas tiba di Indonesia sekitar pukul 17.30 WIB dan langsung diperiksa kelengkapan dokumennya oleh Balai karantina Indonesia. Begitu Andalas keluar dari ruang Cargo, ratusan wartawan sudah menyerbu, kandang yang kecil seakan tenggelam oleh kilauan blitz kamera wartawan. Semua orang ingin melihat sang fenomenal, semua orang ingin dekat dan menyentuhnya. Kedatangan Andalas tepat waktu, selepas magrib Andalas diberi makan oleh bapak menteri dan mulai melanjutkan perjalanan ke SRS TNWK. Iring-iringan rombongan Welcome Andalas menuju pelabuhan merak diiringi rintik hujan yang mengguyur sepanjang perjalanan. Sebelum memasuki pelabuhan Merak Andalas diperiksa pihak karantina pertanian Merak untuk melihat kelengkapan dokumen dan perpindahan antar pulau. Di Merak rombongan tiba lebih cepat dari jadwal kapal yang disewa yaitu pukul 22.00 WIB padahal kapal Jatra III baru sandar pukul 23.00. Waktu menunggu 1 jam dimanfaatkan wartawan untuk wawancara petugas yang mengiringi Andalas. Ramainya wartawan yang ingin meliput dan suasana pelabuhan yang semrawut membuat Andalas sedikit gelisah dan stress, Dokter hewan yang selalu mendampingi Andalas bertindak cepat, Andalas dipindahkan kehalaman kantor ASDP sambil menunggi kapal datang.
Setelah 2 jam mengarungi selat Sunda, rombongan tiba di pelabuhan Bakauheni, disana mobil patroli Polres Lamtim dan polhut sudah menunggu yang akan mengawal perjalanan selanjutnya. Perjalanan terhambat sebentar karena harus diperiksa lagi oleh karantina Lampung. Jalan menuju WK mengalami kerusakan dibeberapa titik sehingga beberapa kali mobil truck pengangkut terguncang. 62 jam tepat dari LA Zoo, Andalas tiba di SRS pagi tanggal 21 Februari 2007, begitu sampai Andalas langsung dibawa kekandang karantina Boma. “Syukur Alhamdulillah semua berjalan lancar sampai Andalas menginjakkan kakinya di tanah Way Kambas” demikian Adi Susmianto Sekdidjen/Direktur KKH Dep Kehutanan. Pak Adi selanjutnya mengatakan “Andalas ini, bisa kita katakan starting point bagi pengembangbiakan yang semi alami difasilitas SRS di Way kambas ini, karena sebelumnya kita belum pernah melakukan hal ini, didunia belum ada yang seperti ini jadi ini adalah yang pertama kali kita mengembalikan hasil captive breeding dari luar negeri ke habitat aslinya”. Harapannya populasi Badak Sumatera dihabitat aslinya akan semakin baik. Dukungan pemerintah sebelumnya sudah disampaikan Dirjen PHKA Arman Malolongan. Pak Dirjen menyampaikan “Kedatangan Andalas ini merupakan salah satu kegiatan yang diprioritaskan pemerintah dalam strategi konservasi Badak Indonesia, yaitu dengan penambahan populasi dari habitat aslinya dan dari hasil penangkaran luar negeri”
Sementara itu ketika ditanya wartawan tentang kemungkinan keberhasilan di masa depan, pakar badak international Nico Van Strien mengatakan “Persentase kami tidak bisa beri, tapi saya kira ada kemungkinan besar berhasil, dia masih muda baru 5 tahun, hormon seperti testosterone sudah diperiksa dan sekarang sudah tinggi. Andalas memerlukan adaptasi 3-6 bulan baru bisa dikeluarkan ke kandang besar setelah itu kami mencoba mendekati dengan betina, harapan saya 1-2 tahun sudah ada badak yang sudah hamil”.
Melihat sambutan dan antusias kedatangan Andalas, pengawal Andalas dari Amerika. DR. Robin WR, DR Curtis Eng dan Steve Romo berujar “ Andalas sang Indonesian Idol” …….. (Warta konservasi edisi V Maret 2007)
Welcome Andalas
Posted in Andalas, Rhino on March 2, 2008 by Dedi CandraDedi Candra
AN
DALAS… Nama itu begitu fenomenal pada 13 September 2001, 2 hari setelah berita besar dimana Gedung WTC di USA hancur lebur dihantam pesawat teroris. Maklum ia Badak Sumatera (BS) pertama hasil penangkaran, setelah 100 tahun lebih orang memelihara BS. Memang pernah ada “Minah” di Sungai Dusun Malaysia tapi induknya telah hamil ketika ditangkap dari hutan. Kepopuleranya bukan hanya di Cincinnati Zoo tempat dimana ia dilahirkan tetapi semua pencinta badak diseluruh dunia ingin tau keadannya. Kini Andalas telah besar, lima tahun sudah usianya. Badak Jantan ini sebentar lagi akan pulang kekampung halaman ayah (Ipuh) dan ibunya (Emi), yaitu ke Sumatera tepatnya ke Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) Way Kambas Lampung. Andalas adalah badak jantan yang beranjak dewasa, ia butuh pembelajaran dan pasangan untuk mengawal kedewasaannya, badak yang mungkin menjadi pasangannya didunia saat ini hanya Ratu dan Rosa , dua ekor badak betina yang ada di SRS, usia merekapun sepantaran 5-6 tahun. Andalas sebenarnya tidak mempunyai pilihan untuk masa depannya selain dibawa ke SRS karena tidak mungkin ia dikawinkan dengan ibunya “emi” atau adiknya “suci” di Amerika sana, akan terjadi inbreeding/perkawinan sedarah nantinya. Apabila inbreeding terjadi maka akan merubah genetik murni dari sang badak, biasanya akan mucul sifat-sifat turunan yang jelek dan tentu akan merusak plasma nutfah. Segala upaya diusahakan agar Andalas bisa dibawa ke Way Kambas, setelah melalui proses dan negosiasi panjang dan melelahkan akhirnya diputuskan bahwa Andalas akan dibawa ke Way Kambas dengan program jangka panjang mengawinkannya dengan Ratu dan Rosa. SRS telah dan sedang melakukan segala persiapan untuk menyambut kedatangan Andalas, mulai dari perijinan, karantina, perkandangan, personil, dll. Welcome Andalas……. (Warta konservasi edisi IV December 2006)