Archive for the Rhino Category

IMPIAN MELESTARIKAN BADAK SUMATERA

Posted in Rhino on March 2, 2008 by Dedi Candra

 

Dedi Canpict0335.jpgdra
Indonesia adalah negara yang terletak di daerah tropis dengan keanekaragaman hayati tertinggi di Asia.  Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) merupakan salah satu keanekaragaman hayati tersebut yang merupakan anugerah dari Tuhan yang maha kuasa, yang harus dipertahankan dan dilestarikan keberadaannya dimuka bumi ini.  Ironisnya populasi Badak Sumatera (BS) terancam punah karena tekanan habitat yang besar dan sulitnya satwa ini bereproduksi baik dihabitat alaminya in-situ maupun di ex-situ atau Kebun Binatang (KB).
Pelestarian BS  dalam hal ini perlindungan dan perkembangbiakan pada hakikatnya lebih kepada dorongan hati nurani, semangat dan impian untuk mencegah punahnya satwa ini lebih dari yang lainnya. Langkah konkrit dan nyata secepatnya harus dilaksanakan, kita tidak bisa hanya beretorika tapi kita harus bergerak cepat berpacu dengan waktu untuk mengembangbiakkan BS, karena lambatnya gerak kita akan terus memusnahkan satwa langka bercula dua ini.  Tingkat keberhasilan pemeliharaan BS di KB sangat kecil bahkan sejak ~100 tahun lalu ketika orang mulai memelihara BS baru tiga ekor lahir di Cincinati Zoo Amerika pada tahun 2001  (Andalas), 2004 (Suci) dan 2007 (Harapan). Sementara untuk perkembangan dihabitat alaminya dihutan-hutan Sumatera dan Malaysia sangatlah lambat. Populasinya turun drastis dan sekarang tinggal sekitar 300 ekor bahkan banyak yang percaya populasinya dibawah itu.
Tahun 1985 badak ditangkap di wilayah Sumatera (Riau dan Bengkulu) karena daerahnya yang terdesak dan terancam (Doomed), terisolasi dari habitatnya akibat aktivitas HPH dan konversi hutan. Penangkapan dilakukan atas kerjasama Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan (PHKA) dan mitra KB luar negeri (Howletts and Porl Lympne Foundation dari Inggris dan Sumatran Rhino Trash dari Amerika), maka ditangkaplah 18 ekor BS dan disebar ke KB di Indonesia dan mancanegara (AS, Inggris dan Malaysia), sampai akhir 1993 mati 13 ekor karena kegagalan pemeliharaan terutama gangguan pencernaan. Untuk menyelamatkan badak yang tersisa maka dibuatlah suatu tempat yang lebih kondusif untuk  bertahan hidup pada tahun 1998, yaitu di Suaka Rhino Sumatera atau Sumatran Rhino Sanctuary  (SRS), kenapa di sebut Sanctuary atau suaka? Karena tujuan awalnya adalah menyelamatkan badak-badak dari kematian di KB, setelah dianggap dapat bertahan hidup, maka reproduksi menjadi prioritas selanjutnya. Konsep Sanctuary yang dikembangkan SRS memperhatikan 5 aspek kebebasan satwa, yaitu :

1.        badak bebas makan dan minum : sumber pakan dan air tersedia sepanjang tahun

2.       mempunyai lingkungan yang sesuai : habitat  sekitar 100 ha dikelilingi pagar listrik  dengan hutan alami yang masih utuh, tenang dan bebas gangguan

3.       mendapat perawatan kesehatan : selalu dimonitor oleh keepers dan dokter hewan

4.       kesempatan untuk mengekspresikan perilaku alami : browse, salt lick, marking area, kawin, berkubang, dll.

5.       perlindungan dari rasa takut dan stres : mengurangi perjumpaan dengan manusia tetapi tetap dalam pengawasan yang intensif.

SRS merupakan hasil kerja sama antara Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) sekarang PHKA (Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam), Departemen Kehutanan, Yayasan Mitra Rhino (YMR), International Rhino Foundation (IRF), dan Taman Safari Indonesia. Seiring dengan perjalanan waktu SRS dengan Rhino Protection Unit (RPU) melebur menjadi satu Yayasan baru yaitu Yayasan Badak Indonesia (Yabi) atau Indonesian Rhino Foundation pada 12 Januari 2008, yang selanjutnya menjadi SRS-Yabi dan RPU-Yabi
SRS merupakan penangkaran BS semi in-situ dihabitat aslinya, berada ditengah rimba Taman Nasional Way Kambas Lampung Timur, berjarak ~8 km dari pintu gerbang Plang Ijo,  disinilah kami bekerja siang malam ditengah kesunyian, jauh dari keramain dan  keluarga, disinilah kami memelihara 5 ekor BS, yaitu si jantan “Torgamba” dari Porl Lympne Inggris dan “Andalas” dari Amerika. Si betina “Bina” dari Taman Safari Indonesia, Rosa dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Ratu warga asli Taman Nasional Way Kambas. 
Ganasnya rimba Way kambas, derasnya hujan, terik mentari, diselingi intaian cobra dan hadangan beruang liar tak membuat kami gentar dan surut dalam memonitor perkembangan kelima badak sepanjang hari, karena kami yakin apabila badak-badak ini berhasil berkembangbiak maka masa depan BS akan cerah kembali, kami tidak ingin anak cucu kita hanya mendengar dongeng tentang badak tanpa pernah mereka melihatnya.  Kejenuhan seringkali datang melanda, tapi demi sebuah tekat dan impian yang besar untuk melestarikan kehidupan BS semua halangan dan rintangan berusaha kami atasi.  Dengan usaha dan kerja keras, Kami yakin bisa mengembangbiakkan satwa super langka itu.
Mengembangbiakkan BS sangat sulit dan lambat tidak seperti satwa liar lainnya, situasi bertambah sulit dengan terbatasnya BS yang dikelola manusia, hal ini menjadi dilema bagi dokter hewan dalam mengambil sebuah tindakan, perlu kecermatan, ketepatan dan kehati-hatian. Disatu sisi harus lebih banyak bersama si badak dan di sisi lainnya badak ini harus lebih diliarkan, karena semakin mereka liar maka proses perkawinannya akan semakin bagus. Badak berambut ini bukan hanya milik Indonesia tapi juga milik dunia sehingga upaya pelestariannya menjadi tanggung jawab kita semua.  BS disebut spesies kunci (key species) dalam konservasi keanekaragaman hayati karena sifatnya yang browser menyusuri semak belukar mencari makan setiap hari, berperan dalam penyebaran/regenerasi pohon dari biji tumbuhan yang menempel ditubuhnya yang diselimuti lumpur sehabis berkubang.  BS memerlukan habitat yang luas dan utuh, maka usaha perlindungan badak merupakan usaha perlindungan terhadap hidupan liar lainnya, juga melindungi berbagai jenis habitat mulai dari kawasan pantai sampai ke pegunungan tinggi. Satwa badak mempunyai peranan yang sangat penting bagi berputarnya roda kehidupan di habitatnya yang sangat luas, melibatkan berbagai hubungan ketergantungan terutama jenis tumbuhan pakan.
Kendala awal yang ada di SRS yang dialami Bina dan Torgamba:

  • Badak betina lebih tinggi dan agresif dari jantan dan juga tidak punya ekor (dipotong karena infeksi) sehingga jantan tidak punya orientasi ketika kawin.
  • Awal datang ke SRS jantan tidak punya pengalaman kawin karena terlalu muda waktu ditangkap.
  • Sulitnya mendeteksi masa birahi, karena kalau tidak tepat badak tidak mau kawin dan bisa berkelahi bahkan menyerang siapa saja.
  • Bina mengalami penebalan selaput dara (hymen) dan Torgamba tidak mempunyai spermatozoa yang mencukupi (sedang diterapi).
  • Sulit untuk meliarkan kembali kedua badak karena sudah terlalu lama berada di KB dan kurangnya catatan data badak sewaktu di KB.

Dengan kondisi yang serba sulit, awalnya impian untuk mengembangbiakkan BS di SRS seperti tidak akan berhasil, banyak pihak yang pesimis, sampai tahun 2002, selama 4 tahun berbagai upaya dilakukan tapi belum menunjukkan hasil yang memuaskan, Torgamba belum berhasil kawin secara sempurna.  Kondisi kesehatan kedua badak sangat baik karena selalu dimonitor oleh Dokter Hewan.  Petugas berusaha mengamati perilaku (behavior) reproduksi badak secermat dan seteliti mungkin selama 24 jam agar perkawinannya berhasil.  Perubahan perilaku diarahkan sealami mungkin dengan mengkombinasikan dengan pengetahuan yang dimiliki.  Pada 25 Februari 2002 badak jantan Torgamba berhasil kawin dengan sempurna untuk pertama kalinya.  Proses perkawinannnya hampir selalu dibantu terutama saat penetrasi, hal ini karena hambatan alami dimana jantan lebih pendek dari betina dan betina tidak punya ekor sehingga sulit buat sijantan untuk orientasi penetrasi. Secercah harapan timbul, lelah terasa hilang, bayangan akan punya bayi BS pertama akan menjadi kenyataan.  Setelah dilakukan pemeriksaan yang intensif dengan manual dan medis (Ultrasound) ternyata badak betina Bina belum bunting. Datangnya badak-badak muda pada periode 2005-2007 seperti Ratu, Rosa dan terakhir Andalas ke SRS menambah optimisnya masa depan perbadakan Indonesia. Hal ini bukan berarti hambatan pergi menjauh karena badak-badak muda ini masih butuh pembelajaran untuk pengalaman reproduksi sambil menunggu masa matang secara sexual. Andalas pun masih perlu banyak belajar tentang hidup dan kehidupan. Tapi kami yakin dengan usaha, kerja keras dan semangat pantang menyerah impian akan jadi kenyataan. Untuk mendukung keberhasilan di SRS berbagai macam dan bentuk penelitian dilakukan antara lain tentang perilaku, makanan, hormonal, zat gizi, habitat, reproduksi, dll. Dalam melakukan penelitian ini, SRS bekerja sama dengan berbagai lembaga penelitian baik dari Universitas dalam negeri seperti UNILA dan IPB maupun luar negeri. SRS juga memberikan kesempatan magang dan belajar bagi mahasiswa, pelajar, pramuka ataupun LSM yang tertarik dengan badak. Hingga penghujung 2007 telah berpuluh kali keberhasil perkawinan yang sempurna tapi kebuntingan belum terjadi, mungkin sebentar lagi.  Hari demi hari, minggu berganti minggu dan bulan terus berlalu tanpa kenal lelah kami masih disini di hutan ini, meneliti kehidupan badak paling terancam didunia (critical endangered), entah kapan impian itu akan jadi kenyataan sementara dihabitat alaminya di belantara Sumatera ancaman kepunahan terus terjadi. Impiannya dan harapan itu selalu ada yang penting kita harus selalu berusaha, berusaha dan berusaha………….
(Apabila ada yang peduli dan ingin memberi donasi kepada pelestarian Badak Sumatra silahkan menghubungi www.Dephut.go.id,  www.badak.or.id atau www.rhinos-irf.org)

Happy Birthday Andalas

Posted in Andalas, Rhino on March 2, 2008 by Dedi Candra

13 September 2pict2105.jpg001, di Cincinnati Zoo Amerika Serikat lahir seekor bayi badak sumatera yang sehat dan lucu, badak kecil ini diberi nama Andalas. Kelahirannya merupakan sepercik harapan bagi kehidupan spesies ini dimasa yang akan datang dan merupakan tonggak sejarah konservasi badak sumatera, karena sekitar 100 tahun lalu orang sudah memelihara badak sumatera baru kali ini berhasil lahir di captive (kandang penangkaran buatan). Dengan hanya sekitar 300 ekor yang bertahan hidup di alam liar dan 10 ekor di captive, badak sumatera benar-benar spesies yang sedang dalam keadaaan kritis dan terancam, saat ini badak sumatera merupakan salah satu dari mamalia besar yang hampir punah didunia.  Walaupun seekor anak badak tidak akan menyelamatkan spesies ini, kelahiran Andalas telah didengungkan sebagai bagian yang penting pada zaman ini (Alm Dr. Tom Foose – IRF), karena akhirnya membuktikan dapat menyibak misteri tentang perkembangbiakan spesies ini di captive.
13 September 2007, Andalas kecil kini sudah besar dan tempatnya pun sudah pindah ke Taman Nasional Way Kambas tepatnya di Suaka Rhino Sumatera. Seiring dengan bertambahnya usia Andalas terselip harapan besar bagi keberhasilannya mengawini badak betina lain seperti Ratu, Rosa dan Bina. Tak lain untuk penambahan populasi badak sumatera yang memang sangat sedikit dan terus turun dari waktu ke waktu.
Usia ini adalah usia awal memasuki kedewasaan dan Andalas berada ditempat yang tepat untuk menuju kedewasaannya, dimana di Wa
y Kambas ia mempunyai 3 ekor betina sebagai pasangannya. Andalas buktikan kejantananmu dan Selamat Ulang tahun, Happy Birthday big boy..

Back to Jungle

Posted in Andalas, Rhino on March 2, 2008 by Dedi Candra

Dedi Candra
30 Agustu
s pict9899.jpg2007Andalas sang phenomenal sejak 30 Mei 2007 mulai dilepaskan kelokasi hutan sebenarnya setelah melewati masa karantina dan adaptasi selama hampir 3 bulan. Sejak kedatangannya tanggal 21 Februari 2007 dari kebun binatang Los Angeles Amerika, Andalas badak muda berumur hampir 6 tahun ini banyak belajar tentang hidup dialam yang sebenarnya. Awalnya dia sangat takut terhadap hutan luas maklum sebelumnya hanya memiliki lokasi yang kecil, dia sangat takut dengan gelap maklum di Amerika selalu tersedia lampu penerangan, dia sangat takut mendengar bunyi ranting kering yang diinjaknya sendiri maklum dia tidak pernah memiliki tempat yang banyak semaknya, dia sangat takut jauh dari keepernya maklum dia selalu diawasi, dia sangat marah melihat babi hutan maklum di termpat asalnya tidak ada satwa lain di lokasinya kecuali dia sendiri dan masih banyak lagi kejadian-kejadian aneh dan lucu mengawal proses pengenalan Andalas terhadap hutan belantara. Babi hutan memang sangat dimusuhi oleh Andalas, ketika melihat dan mencium bau mahkluk ini, Andalas akan langsung mengejar dengan meninggalkan aktivitas yang dia lakukan sebelumnya, ini menjadi kendala tersendiri bagi petugas dalam mengajarkannya terhadap hutan Way Kambas, karena apabila dia sudah marah bukan hanya babi yang diuber tetapi keeper juga diserang dan tentu saja ini berbahaya. Dengan bobot hampir 700 kg tentu saja akan fatal kalau tertabrak. Syukur Alhamdullillah kondisi Andalas secara umum baik dan dia mulai banyak memakan tumbuhan asli Way Kambas terutama jenis Ficus dan akar-akaran tapi tentu saja Apple harus selalu tersedia karena itu sangat disukainya.
Ketika dikenalkan dengan salah satu badak betina “ Rosa”, Andalas merasa aneh, “wah ada juga mahkluk sepertiku” batin Andalas, mungkin sebelumnya dia anggarp hanya dia sendiri yang hidup dihutan luas Way Kambas. Tentu saja i
ni membangkitkan Adrenalinnya…langsung saja keceriaan dan ketertarikannya bertambah dan secara naluri Andalas mulai urin (kencing-red) seperti badak jantan umumnya (yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya) yaitu dengan menggosok-gosokkan kepalanya kededaunan, kemudia urin sambil menggaruk-garukkan kaki belakangnya ketanah. Semua yang melihat bertepuk tangan sambil tertawa karena urinnya masih memancar kesana-kemari “ wah… kencingnya belum lurus” celetuk salah seorang keeper yang memonitornya.
Waktu terus berlalu seiring dengan besarnya harapan terhadap Andalas demi keberhasilan penambahan populasi badak Sumatera yang memang semakin sedikit. Andalas… back to jungle ….  masa depan badak Sumatera ada padamu…….

Badak Sumatra – Quarantine Period

Posted in Andalas, Rhino on March 2, 2008 by Dedi Candra

Dedi Candrapict5403.jpg
1 Maret 2007 – Suaka Rhino Sumatra (SRS) ditunjuk oleh Balai Karantina Pertanian Indonesia melalui Balai karantina kelas I panjang Lampung sebagai Instalasi Karantina Hewan Sementara (IKHS). Karantina ini sendiri direncanakan selama 1 bulan dimana 14 hari awal dipantau oleh langsung oleh Balai Karantina. Sementara penanganan kesehatan dan adaptasi Andalas langsung oleh tim khusus yang terdiri dari Robin (IRF), Curtis Eng, Steve Romo (LA Zoo), M. Agil (IPB/SRS), Dedi Candra, Marcellus Adi dan Andriansyah (SRS). Awal datang Andalas mengalami kelelahan dan sedikit stress tetapi setelah beberapa saat kondisinya mulai membaik, bahkan hari-hari berikutnya lebih baik lagi, semua proses berjalan lancar tanpa gangguan berarti. Kandang Boma sendiri berukuran 20×30 m2 ditambah sebuah kandang perawatan yang diberi cover “ kelambu“, maklum Andalas belum pernah tergigit ekto parasit di negeri asalnya. (Warta konservasi edisi V Maret 2007)

Talkshow Welcome Andalas

Posted in Andalas, Rhino on March 2, 2008 by Dedi Candra

Dedi Candra
16 Februari 2007 -Salah satu acara pameran dan promosi konservasi badak di Botanical Square Bogor adalah talkshow yang diadcimg4159.jpgakan tanggal 16 Februari 2007.
Nara sumber  talkshow adalah: Widodo S Ramono, Nico Van strien, FX Harry, Faustina Ida dengan pembawa acara Okky. Acara yang hanya 1 jam terasa sangat cepat karena antusias peserta menanyakan tentang keberadaaan badak di Indonesia. Disini Wako hanya menampilkan beberapa pertanyaan yang banyak ditanyakan.
Berapa variable minimum (Size) dari suatu species terutama badak?
Jumlah minimum per spesies sekitar 2.500 ekor, jadi jumlah badak Indonesia yang saat ini sekitar 250 ekor (200 ekor badak sumatera dan 50 ekor badak jawa) tentu saja ini diambang kepunahan.
Jika habitat di Ujung kulon musnah, karena akhir-akhir ini banyak bencana alam, kira-kira dimanakah tempat second population untuk badak jawa? Sudah adakah penelitian tentang habitat baru tersebut?
Akhir-akhir ini memang banyak terjadi bencana alam seperti tsunami dan itu bisa membuat ujung kulon musnah, untuk second population sudah ada wacana untuk dipindah ke TN G halimun dan ke Sumatera (Jambi)
Dengan badak jawa di ujung kulon yang populasinya hanya sekitar 50 ekor, maka dikawatirkan adanya inbreeding dan terjadinya kerusakan genetic, bagaimana cara mengatasinya?
Masalah utama dan krusial badak jawa memang in breeding, tetapi dengan upaya konservasi dan dukungan semua pihak maka kita bisa berusaha mengatasinya, seperti halnya dengan badak India yang dahulunya 20-30 ekor sekarang ada 700 ekor, dan di Afrika badak putih yang dulunya 30-50 ekor sekarang 17.000 ekor.
Sampai dimanakah kepedulian masyarakat terhadap badak? Masih adakah perburuan terhadap badak?
Di taman nasional telah dibentuk Rhino Protection Unit (RPU) dan Rhino Monitoring and Protection Unit RMPU, mereka adalah unit-unit yang terdiri dari masyarakat juga, sehingga masyarakat turut berpartisipasi didalamnya.
Bagaimana Andalas hidup ditempat barunya di Indonesia: apakah bisa beradaptasi?
Andalas beradaptasi dengan suhu, tetapi hal itu tidak perlu terlalu dikawatirkan karena sudah ditangani dengan baik dan Andalas saat ini sedang ada di Los Angeles yang suhunya juga hangat. (Warta konservasi edisi V Maret 2007)

Andalas sang Indonesian Idol

Posted in Andalas, Rhino on March 2, 2008 by Dedi Candra

 

Dedi Candra
Kedat
pdvd_082.jpgangan Andalas memang menghebohkan. Tanggal 20 Februari 2007 adalah kedatangannya setelah menempuh perjalanan panjang dari Los Angeles Zoo Amerika Serikat. Andalas tiba di Indonesia melalui bandara Soekarno-Hatta tepatnya di terminal III cargo, disana pula dilaksanakan acara penyambutan kedatangan Andalas yang bertajuk “Welcome Andalas”. Acaranya sendiri adalah press conference dan penyambutan oleh Bapak MS Kaban Menteri Kehutanan Indonesia. Luar biasa acaranya, hampir seluruh media TV lokal ada, 5 stasiun TV asing, hampir semua media cetak nasional, pencinta satwa liar bahkan Dik Doang presenter yang terkenal sebagai duta lingkungan turut hadir. Dalam kesempatan ini menteri Kehutanan mengatakan inilah yang kita usahakan, jadi ini tantangan bagi para ahli kita dan pakar-pakar kita, pengamat-pengamat bagaimana pengembangbiakan di Indonesia ini bisa berhasil. Kegiatan ini adalah sebuah tantangan dan usaha dengan berhasil memulangkan badak sumatera dari Amerika. Selama ini usaha untuk reproduksi telah dilakukan, tetapi badak jantan (Torgamba) yang didatangkan dari Inggris itu kurang subur. Selanjutnya menteri menambahkan populasi badak sumatera selama lebih kurang 20 tahun terakhir mengalami penurunan yang sangat drastis, diduga penurunan ini mencapai 50 %, penurunan ini terjadi banyak variable: perburuan liar, rusaknya habitat/perambahan hutan/konversi hutan, kebakaran hutan, pencurian-pencurian kayu dalam kawasan hutan.

Andalas tiba di Indonesia sekitar pukul 17.30 WIB dan langsung diperiksa kelengkapan dokumennya oleh Balai karantina Indonesia. Begitu Andalas keluar dari ruang Cargo, ratusan wartawan sudah menyerbu, kandang yang kecil seakan tenggelam oleh kilauan blitz kamera wartawan. Semua orang ingin melihat sang fenomenal, semua orang ingin dekat dan menyentuhnya. Kedatangan Andalas tepat waktu, selepas magrib Andalas diberi makan oleh bapak menteri dan mulai melanjutkan perjalanan ke SRS TNWK. Iring-iringan rombongan Welcome Andalas menuju pelabuhan merak diiringi rintik hujan yang mengguyur sepanjang perjalanan. Sebelum memasuki pelabuhan Merak Andalas diperiksa pihak karantina pertanian Merak untuk melihat kelengkapan dokumen dan perpindahan antar pulau. Di Merak rombongan tiba lebih cepat dari jadwal kapal yang disewa yaitu pukul 22.00 WIB padahal kapal Jatra III baru sandar pukul 23.00. Waktu menunggu 1 jam dimanfaatkan wartawan untuk wawancara petugas yang mengiringi Andalas. Ramainya wartawan yang ingin meliput dan suasana pelabuhan yang semrawut membuat Andalas sedikit gelisah dan stress, Dokter hewan yang selalu mendampingi Andalas bertindak cepat, Andalas dipindahkan kehalaman kantor ASDP sambil menunggi kapal datang.
Setelah 2 jam mengarungi selat Sunda, rombongan tiba di pelabuhan Bakauheni, disana mobil patroli Polres Lamtim dan polhut sudah menunggu yang akan mengawal perjalanan selanjutnya. Perjalanan terhambat sebentar karena harus diperiksa lagi oleh karantina Lampung. Jalan menuju WK mengalami kerusakan dibeberapa titik sehingga beberapa kali mobil truck pengangkut terguncang. 62 jam tepat dari LA Zoo, Andalas tiba di SRS pagi tanggal 21 Februari 2007, begitu sampai Andalas langsung dibawa kekandang karantina Boma. “Syukur Alhamdulillah semua berjalan lancar sampai Andalas menginjakkan kakinya di tanah Way Kambas” demikian Adi Susmianto Sekdidjen/Direktur KKH Dep Kehutanan. Pak Adi selanjutnya mengatakan “Andalas ini, bisa kita katakan starting point bagi pengembangbiakan yang semi alami difasilitas SRS di Way kambas ini, karena sebelumnya kita belum pernah melakukan hal ini, didunia belum ada yang seperti ini jadi ini adalah yang pertama kali kita mengembalikan hasil captive breeding dari luar negeri ke habitat aslinya”. Harapannya populasi Badak Sumatera dihabitat aslinya akan semakin baik. Dukungan pemerintah sebelumnya sudah disampaikan Dirjen PHKA Arman Malolongan. Pak Dirjen menyampaikan “Kedatangan Andalas ini merupakan salah satu kegiatan yang diprioritaskan pemerintah dalam strategi konservasi Badak Indonesia, yaitu dengan penambahan populasi dari habitat aslinya dan dari hasil penangkaran luar negeri”
Sementara itu ketika ditanya wartawan tentang kemungkinan keberhasilan di masa depan, pakar badak international Nico Van Strien mengatakan “Persentase kami tidak bisa beri, tapi saya kira ada kemungkinan besar berhasil, dia masih muda baru 5 tahun, hormon seperti testosterone sudah diperiksa dan sekarang sudah tinggi. Andalas memerlukan adaptasi 3-6 bulan baru bisa dikeluarkan ke kandang besar setelah itu kami mencoba mendekati dengan betina, harapan saya 1-2 tahun sudah ada badak yang sudah hamil”.
Melihat sambutan dan antusias kedatangan Andalas, pengawal Andalas dari Amerika. DR. Robin WR, DR Curtis Eng dan Steve Romo berujar “ Andalas sang Indonesian Idol” ……..
(Warta konservasi edisi V Maret 2007)

Welcome Andalas

Posted in Andalas, Rhino on March 2, 2008 by Dedi Candra

Dedi Candra

ANpict0126.jpgDALAS… Nama itu begitu fenomenal pada 13 September 2001, 2 hari setelah berita besar dimana Gedung WTC di USA hancur lebur dihantam pesawat teroris. Maklum ia Badak Sumatera (BS) pertama hasil penangkaran, setelah 100 tahun lebih orang memelihara BS. Memang pernah ada “Minah” di Sungai Dusun Malaysia tapi induknya telah hamil ketika ditangkap dari hutan. Kepopuleranya bukan hanya di Cincinnati Zoo tempat dimana ia dilahirkan tetapi semua pencinta badak diseluruh dunia ingin tau keadannya. Kini Andalas telah besar, lima tahun sudah usianya. Badak Jantan ini sebentar lagi akan pulang kekampung halaman ayah (Ipuh) dan ibunya (Emi), yaitu ke Sumatera tepatnya ke Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) Way Kambas Lampung. Andalas adalah badak jantan yang beranjak dewasa, ia butuh pembelajaran dan pasangan untuk mengawal kedewasaannya, badak yang mungkin menjadi pasangannya didunia saat ini hanya Ratu dan Rosa , dua ekor badak betina yang ada di SRS, usia merekapun sepantaran 5-6 tahun. Andalas sebenarnya tidak mempunyai pilihan untuk masa depannya selain dibawa ke SRS karena tidak mungkin ia dikawinkan dengan ibunya “emi” atau adiknya “suci” di Amerika sana, akan terjadi inbreeding/perkawinan sedarah nantinya. Apabila inbreeding terjadi maka akan merubah genetik murni dari sang badak, biasanya akan mucul sifat-sifat turunan yang jelek dan tentu akan merusak plasma nutfah. Segala upaya diusahakan agar Andalas bisa dibawa ke Way Kambas, setelah melalui proses dan negosiasi panjang dan melelahkan akhirnya diputuskan bahwa Andalas akan dibawa ke Way Kambas dengan program jangka panjang mengawinkannya dengan Ratu dan Rosa. SRS telah dan sedang melakukan segala persiapan untuk menyambut kedatangan Andalas, mulai dari perijinan, karantina, perkandangan, personil, dll. Welcome Andalas……. (Warta konservasi edisi IV December 2006)