Archive for the Gajah Category

Gajahku ……..

Posted in Gajah on March 2, 2008 by Dedi Candra

Dedi Candra
image11771.jpgSuatu areal yang dipagari kanal besar dan dalam, itulah rumah bagi 61 ekor gajah di Pusat Latihan Gajah Way Kambas. Bak sebuah kerajaan besar disana ada hirarki kehidupan, disana ada sang penguasa, ada sang raja. Tetapi kini keadaaan sedang tak menentu, beberapa jantan besar mulai berebut kekuasaaan maklum beberapa waktu lalu sang Raja yang telah lama bertahta “ Sengtong” telah tiada. Disana juga ada “kartijah” sang ibu bijaksana, dia adalah allow mother (ibu asuh) sejati bagi gajah-gajah kecil yang bermasalah, cocok sekali nama itu karena kartijah berarti kartininya gajah. Kini kartijah sedang mengasuh “Braja” jantan kecil yang ditemukan didalam sumur warga. Braja sangat dekat dengan kartijah bahkan sangat dekat, jangan coba-coba mengganggu Braja, Kartijah akan murka. Oo ya kabarnya kartijah sedang hamil juga, tentu Braja akan sangat senang mempunyai adik kecil.

Menyinggung sang raja baru, dari beberapa kandidat sepertinya “ Tony” yang akan naik tahta, ketika masa mash, Toni mulai beringas, dahulu tidak seperti itu karena dulu ada Sengtong. Ada juga beberapa gajah kecil lagi yang hidup disana.
Pagar kanal juga menarik karena sebelumnya tidak ada. Kanal ini dibuat untuk membuat batas atau areal yang terisolasi dari sekelilingnya, mencegah “kerbau liar” beraktivitas di kandang gajah, juga untuk menghindari gangguan gajah liar. Populasi yang banyak tentu bukan tidak bermasalah, perlu penanganan yang serius dari semua pihak bukan hanya TNWK, partisipasi dan kontribusi dari semuanya dalam bentuk apapun sangat diperlukan, mari kita bangun PLG dan gajah kita sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Bayangkan saja memberi makan 61 ekor gajah bukan perkara mudah, apalagi perawatannya terutama kesehatan, perlu keseriusan dan perhatian penuh. Sekarang bukan masanya saling menghujat dan menjatuhkan, banyak sekali yang katanya pemerhati satwa berkomentar miring bahkan menghujat, itu tidak cukup untuk menolong PLG, silahkan saja siapapun berkomentar tetapi tolong beri juga solusinya bahkan kalau perlu action langsung. Semoga gajahku tetap survive… tetap lestari… tetap abadi….
(Warta konservasi edisi V Maret 2007)

Sang Raja Telah Tiada

Posted in Gajah on March 2, 2008 by Dedi Candra

Dedi Candra

sentong-mati-3-1-2007-098.jpgSengtong begitu ia biasa dipanggil dan nama itu sudah sangat terkenal di PLG Way Kambas Lampung. Nasib yang membuat ia berada di PLG WK karena dahulunya ia gajah yang bermasalah yang selanjutnya digiring, ditangkap dan dilatih menjadi gajah jinak dan pintar, ia juga merupakan generasi awal gajah di PLG WK yang dilatih langsung olah pawang gajah dari Thailand. Sengtong merupakan gajah jantan besar dan dominan dimana ia menguasai seluruh jantan PLG, ketika tiba masa Mash…. Tak ada gajah lain yang berani dekat Sengtong. Seiring dengan perjalanan waktu pawangpun silih berganti menangani Sengtong dan kondisinya terus menurun walaupun ia tetap sang penguasa, tetap sang raja.

Sengtong dihajar gajah liar “ Dugul”, dengan  kondisi terikat dipatok beton, Sengtong tidak mempunyai keleluasaan bertarung dengan dugul sehingga beberapa bagian tubuhnya mengalami luka bahkan ekornya putus pada bagian ujung, bahkan yang menyedihkan Sengtong sampai roboh ditabrak dugul.
Kondisi kesehata
n yang menurun dan terus menurun walaupun masih bisa beraktivitas normal membuat kondisinya secara umum melemah. Beberapa penyakit yang menghinggapinya seperti infasi parasit, anemia, kekurangan protein, dll memperburuk keadaannya. Kondisi PLG yang kurang kondusif untuk pemeliharaan gajah juga berpengaruh terhadap kesehatannya. Kejadian terakhir ketika hendak minum pada 3 Januari 2007, Sengtong terjatuh ketika pulang dari tempat ia minum…. 2 kali ia terjerembab. Dengan bobot hampir 3 ton tentu bukan jatuh biasa yang dialami Sengtong. Sebentar meregang nyawa dan Sengtongpun mati.
Malamnya segera dilakukan nekropsi, adapun hasilnya: Secara umum organ-organ seperti hati, jantung, paru, ginjal, limfa, pangkre
as, testis tidak mengalami kelainan, tetapi pada saluran pencernaan (Lambung dan usus terdapat masalah). Lambung dan usus hampir kosong hanya berisi ~ 15 % makanan, usus besar dan lambung ditemukan infasi parasit cacing Paramphistomum sp yang luar biasa banyaknya, hampir tidak ada celah di dinding usus semua tertutup cacing yang bekas perlekatannya meninggalkan nodul-nodul kecil yang apabila tergesek mengeluarkan darah. Kondisi seperti ini menimbulkan anemia kronis, tidak efektif penyerapan makanan  dan menimbulkan pendarahan/infeksi usus/lambung. Dan yang lebih dikawatirkan beberapa gajah lain kemungkinan besar memiliki kasus yang sama dengan Sengtong, jadi keseriussan pengelola (TNWK dan mitra) sangat diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan  terburuk pada gajah lain. Untuk memperkuat diagnosa semua sample organ dikirim ke FKH IPB Bogor.
Kita berharap semoga ini kematian terakhir gajah di PLG Way Kambas, tetapi apabila kita semua tidak serius menanganinya bukan tidak mungkin dalam waktu dekat akan ada gajah-gajah lain yang mati. Sengtong semoga kematianmu memberi pelajaran pada semuanya, semoga raja yang akan menggantikanmu bukan raja yang sakit-sakitan tetapi raja yang kuat dan perkasa. Kini …. sang raja telah tiada.
(Warta konservasi edisi V Maret 2007)

SELAMAT JALAN SENGTONG

Posted in Gajah on March 2, 2008 by Dedi Candra

Harno dan Dedi

Harno…. “Aplgrung-rcti32.jpgntar Drh Dedi ke PLG untuk melihat Sengtong yang sedang sekarat” perintah Marcel manajer SRS kepada Harno Polhut TNWK yang sedang bertugas di SRS. Kami semua sangat terkejut mendengar berita itu, maklum yang kami tahu Sengtong adalah Gajah jantan terkuat di PLG. Ketika mempersiapkan alat-alat yang akan dibawa kembali Marcel memberi info bahwa Sengtong telah tiada, Lemes…. Sedih…. Satu lagi Gajah PLG mati. Peralatan yang tadinya untuk perawatan berupa selang infus dan obat-obatan berganti dengan rentetan pisau bedah untuk menekropsi Sengtong.

Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya maklum kini sedang musim hujan, sewaktu-waktu bisa terjadi hujan atau memang alam sedang berduka bahwa Sengtong telah tiada. Aku menyiapkan sepeda motor yang akan dibawa karena kami tidak bisa membawa mobil, satu-satunya jalan sedang diperbaiki jadi hanya cukup untuk sepeda motor menyusuri jalan setapak yang sangat licin dan berliku. Luar biasa derasnya hujan senja itu tapi kami harus segera sampai ke PLG, jarak 20 km yang kami tempuh semakin terasa panjang karena kondisi jalan yang sangat jelek, beberapa kali kami tergelincir dan terjerembab ke selokan berlumpur, pakaianpun basah kuyup rasanya tak ada bagian tubuh yang kering, basah semuanya.

Setelah bertemu dengan Pimpinan PLG kamipun menuju lokasi Sengtong, disana sudah banyak orang, ada pawang, WWF, WCS, staff TN Polhut, dll. Satu escavator sedang menarik tubuh Sengtong ke lokasi yang lebih datar untuk memudahkan nekropsi. Melihat Sengtong tergeletak tak bernyawa, sedih rasanya walaupun aku bukan pawangnya tapi sebagai orang yang bekerja dikawasan konservasi melihat itu tetap pedih rasanya, sang raja yang dulu perkasa kini hanya onggokan besar tak berguna dan sebentar lagi akan dicabik-cabik untuk melihat kondisi organ-organnya, untuk mencari tau apa penyebab kematiannya.
Dokter Dedi dan Esti, bersama pak Nazar, pak Didik, pak Taman, dll bersiap dengan golok dan pisau ditangan, mereka siap membongkar tubuh seberat hampir 3 ton itu. Dengan kamera ditangan aku berusaha mengabadikan setiap momen dimalam itu, semua orang terlihat sibuk, tapi ada juga yang hanya berdiri melihat proses nekropsi. Sayat demi sayatan dan potong demi potongan terus dilakukan sampai hampir semua organ ditemukan, sepertinya sejauh ini belum ditemukan sesuatu yang mencurigakan terhadap penyebab kematian Sengtong. Tiba-tiba bulu romaku merinding melihat usus dan lambung dibuka, hanya sedikit sisa makanan disana, yang membuat semua orang terkejut adalah keberadaan parasit (yang aku duga sejenis Cacing) menempel merata diselutur permukaan usus, ribuan banyaknya…. Bergerak perlahan tapi pasti…. Aku masih bertanya-tanya apa gerangan itu, ah… biarlah nanti aku tanya ke Dokter Dedi, apa gerangan mahkluk itu, sambil kembali mengarahkan kamera ke tubuh Sengtong.
Wajah lelah, pucat dan sedih terlihat diraut wajah semua orang yang ada di tempat itu. Ketika nekropsi selesai barulah terasa dingin dan menggigil tubuh ini, maklum sejak senja sampai dini hari dimana nekrosi baru selesai aku tetap memakai pakaian yang basah tadi, tak teringat sama sekali untuk menukarnya karena pikiranku hanya pada Sengtong….
Tanah terakhir yang menutup pusara Sengtong mengiringi kepergian kami dari tempat itu. Selamat jalan Sengtong……
(Warta konservasi edisi V Maret 2007)