Archive for the Flona Category

Bunga Bangkai Mekar di SRS

Posted in Flona on March 2, 2008 by Dedi Candra

Dedi Candra
Yuhadcimg4850.jpgi salah seorang keeper badak di Sumatran Rhino Sanctuary  Taman Nasional Way Kambas (TNWK) menemukan bunga bangkai yang sedang mekar. Penemuan ini secara tidak sengaja terjadi ketika dia sedang mengikuti aktivitas Rosa dihutan pada tanggal 15 Maret 2007. Lokasi penemuan di atas sungai kecil di dalam semak-semak. Awalnya Rosa badak betina asal Taman Nasional Bukit Barisan Selatan mendengus sambil mencium sesuatu, rupanya Rosa menemukan sesuatu yang aneh. Setelah didekati oleh Yuhadi ternyata ada sebuah bunga bangkai jenis Amorphopalus sp setinggi 2 meter. Penemuan ini tidak aneh di SRS karena pada tahun 1999 pernah juga ditemukan bunga serupa oleh Rakimin, juga keeper badak. Keberadaaan bunga jenis ini di TNWK cukup menarik karena ternyata dibulan Maret ini juga ditemukan di sekitar Way Binjai Resor Plang Hijau Seksi Kuala Penet. Tentu saja ini merupakan potensi baru di TNWK dan bisa menarik minat wisatawan. (Warta konservasi edisi V Maret 2007)

Cairina si Mentok Rimba

Posted in Flona on March 1, 2008 by Dedi Candra

Mentok rimba adalah sejenis unggas dari keluarga bebek (Kingdom: Animalia-Chordata-Aves- Anseriformes-Anatidimage1009.jpgae-Cairina-C.scutulata). Termasuk salah satu unggas air yang paling langka dan terancam punah saat ini, bebek liar ini juga dikenal dengan beberapa nama seperti: bebek hutan, mentok hutan atau angsa hutan. Nama ilmiahnya adalah Cairina scutulata (Muller, 1842), di Way Kambas lebih terkenal dengan sebutan Cairina dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai White Winged Wood Duck.
Bentuknya sangat
mirip dengan mentok peliharaan (Cairina moschata), Cairina memiliki panjang tubuh dari paruh hingga ke ujung ekor ~75 cm.
Tubuh umumnya berwarna gelap atau kehitaman, dengan sisi bawah sayap berwarna putih (terlihat ketika terbang). Kepala dan leher putih, terkadang dengan bintik-bintik kehitaman. Paruh dan kaki kekuningan atau jingga kusam. Tidak seperti mentok peliharaan, tak ada lingkaran merah di sekeliling mata.

Cairina menghuni hutan berawa yang dangkal dan tidak terlalu rapat vegetasinya. Cairina adalah satwa omnivora, dimana memangsa aneka macam makanan termasuk tumbuhan air, keong/siput, ikan-ikan kecil, cacing, serangga dan laba-laba air.
Suaranya nyaring seperti angsa dan terbilang langka keberadaannya di alam. ”Mentok rimba terancam punah. Kalau bisa ketemu dihutan, kita ter
masuk yang sangat beruntung dan akan merasa puas” kata Apriawan dan Dedi – petugas dan guide TNWK sekaligus pengamat/peneliti burung di Way Kambas.
Beberapa tempat menjadi favorit Cairina seperti Rawa Gajah dan ulung-ulung di resort Way Kanan. Apabila beruntung kita bisa melihat Cairina terbang rendah berpasangan disekitar daerah tersebut. Di Way Kambas, diperkirakan jumlahnya tinggal sekita
r 30 ekor. Menurut Apriawan awal perjumpaannya dengan Cairina pada tahun 1984 di camp D2 tapi waktu itu belum kenal dan pada 1986, bertemu lagi di Rawa Gajah. ”Waktu itu, saya lagi mengantar peneliti Inggris.
Lain lagi cerita Dedi. Dia pernah berjumpa Cairina sangat banyak, sekitar 28 ekor dalam waktu bersamaan di Ulung-ulung, kalau tidak s
alah tahun 2001 lanjut Dedi sambil mengingat-ingat. Sama seperti rekannya tadi, Dedi juga mempunyai pengalaman yang cukup banyak tentang satwa ini apalagi ia cukup lama menemani Nancy Drilling – peneliti asal Amerika Serikat (Universitas Minessota) didaerah Way Kanan. Apriawan dan Dedi sampai saat ini sering memandu wisatawan atau peneliti yang ingin melihat keberadaan Cairina. (Dedi Candra, warta konservasi edisi IV December 2006)